Tampilkan postingan dengan label Ethiopia (1986). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ethiopia (1986). Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Maret 2013

Ethiopia

Sebuah lagu yang berkisah tentang bencana kelaparan di Ethiopia. Pada masa itu, berita ini memang cukup menghebohkan masyarakat. Wajar bila Iwan Fals membuat lagu yang menggambarkan keprihatinannya pada bencana di benua Afrika ini.
Ethiopia adalah sebuah negara di benua Afrika. Dua dekade silam, tepatnya tahun 1984-1985, Ethiopia merebut perhatian dunia. Betapa tidak, bencana kekeringan dan kelaparan melanda negara di Benua Afrika tersebut. Kala itu banyak warga Ethiopia yang meregang nyawa karena kelaparan.


Ethiopia
Iwan Fals (Album Ethiopia 1986)

Dengar rintihan berjuta kepala
Waktu lapar menggila
Hamparan manusia tunggu mati
Nyawa tak ada arti

Kering kerontang meradang
Entah sampai kapan
Datang tikam nurani

Selaksa doa penjuru dunia
Mengapa tak rubah bencana
Menjerit Afrika mengerang Ethiopia

Ethiopia Ethiopia
Ethiopia Ethiopia
Ethiopia Ethiopia
Ethiopia Ethiopia

Derap langkah sang penggali kubur
Angkat yang mati dengan kelingking
Parade murka bocah petaka
Tak akan lenyap kian menggema

Nafas orang-orang disana
Merobek telinga
Telanjangi kita

Lalat-lalat berdansa cha cha cha
Berebut makan dengan mereka
Tangis bayi ditetek ibunya
Keringkan air mata dunia

Obrolan kita dimeja makan
Tentang mereka yang kelaparan
Lihat sekarat dilayar TV
Antar kita pergi ke alam mimpi

Ethiopia Ethiopia
Ethiopia Ethiopia
Ethiopia Ethiopia
Ethiopia Ethiopia

” Disana terlihat ribuan burung nazar...
Terbang disisi iga iga yang keluar...
Jutaan orang memaki takdirnya...
Jutaan orang mengutuk nasibnya...
Jutaan orang marah...
Jutaan orang tak bisa berbuat apa apa... “

” Setiap detik selalu saja ada yang merintih...
Setiap menit selalu saja ada yang mengerang...”
Ethiopia Ethiopia
Ethiopia Ethiopia

“ Aku dengar jeritmu dari sini...
Aku dengar...
Aku dengar tangismu dari sini...
Aku dengar... “

” Namun aku hanya bisa mendengar...
Aku hanya bisa sedih...
Hitam kulitmu...
Sehitam nasibmu kawan... ”

” Waktu kita asik makan...
Waktu kita asik minum...
Mereka haus...
Mereka lapar...
Mereka lapar...
Mereka lapar... “

Entah


Sebuah pengakuan jujur dan masuk akal dikatakan Iwan Fals dalam lagu ini. Lirik yang tegas namun penuh keraguan akan sebuah perasaan cinta. Bagaimana ada ketegasan tetapi ada keraguan didalamnya. Coba resapi lirik ini, 'seperti biasa aku tak sanggup berjanji, hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini, entah esok hari, entah lusa nanti... entah..."

Nah sudah diresapi?. Trus benar juga kan? Iwan Fals tidak muluk muluk. Dia bisa saja berkata aku cinta kau selama-lamanya sampai maut memisahkan kita. Iwan Fals tidak berani berkata itu, sebab manusia hatinya bisa dengan mudah dibolak-balik. Hari ini cinta, besok bisa tiba-tiba benci. Begitulah kehidupan, maka jangan suka mudah berjanji kalau tidak yakin mampu menepati.
Lagu ini kemudian direkam ulang dan dimasukkan dalam album Best Of The Best tahun 2000 dengan versi musik yang berbeda. Karakter vocal Iwan Fals juga jauh berbeda.


Entah
Iwan Fals ( Album Ethiopia 1986 / Best Of The Best 2000)


Entah mengapa
Aku tak berdaya
Waktu kau bisikkan
Jangan aku kau tinggalkan

Tak tahu dimana
Ada getar terasa
Waktu kau katakan
Ku butuh dekat denganmu

Seperti biasa
Aku diam tak bicara
Hanya mampu pandangi
Bibir tipismu yang menari

Seperti biasa
Aku tak sanggup berjanji
Hanya mampu katakan
Aku cinta kau saat ini

Entah esok hari
Entah lusa nanti
Entah

Sungguh mati betinaku
Aku tak mampu beri sayang yang cantik
Seperti kisah cinta di dalam komik

Sungguh mati betinaku
Buang saja angan angan itu
Lalu cepat peluk aku

Lanjutkan saja langkah kita
Rasalah
Rasalah
Apa yang terasa

Bunga Bunga Kumbang Kumbang

Memang paling mudah membuat perumpamaan dengan binatang atau makhluk hidup lainnya. Kali ini Iwan Fals membuat perumpamaan antara laki-laki dengan perempuan. Lelaki dia umpamakan sebagai hewan Kumbang, sedangkan yang wanita dia gambarkan sebagai Bunga.

Dan sesuai dengan hukum alam, kumbang akan mencari madu yang didapat dari bunga. Begitu madu dalam sebuah bunga habis, maka kumbang akan mencari bunga lainnya. Begitu seterusnya. Lantas Iwan Fals bertanya apakah kalau yang terjadi pada manusia juga begitu sama seperti yang dilakukan kumbang terhadap bunga...?




Bunga Bunga Kumbang Kumbang
Iwan Fals ( Album Ethiopia 1986 )


Apa memang harus layu
Bunga bunga
Setelah sang kumbang
Menghisap manisnya madumu

Apa memang harus ingkar
Kumbang kumbang
Setelah sang bunga
Terkulai layu tak berbunga

Bunga bunga dilahirkan
Untuk dihisap sang kumbang
Kumbang kumbang dilahirkan
Untuk menghisap sang bunga

Bunga bunga dimekarkan
Untuk digoda sang kumbang
Kumbang kumbang diterbangkan
Untuk menggoda sang bunga

Mengapa bunga harus layu?
Setelah kumbang dapatkan madu
Mengapa kumbang harus ingkar?
Setelah bunga tak lagi mekar

Mungkin tuhan telah takdirkan
Kumbang kumbang
Campakkan sang bunga
Setelah layu tak berguna

Bunga bunga dilahirkan
Untuk dihisap sang kumbang
Kumbang kumbang dilahirkan
Untuk menghisap sang bunga

Bunga bunga dimekarkan
Untuk dicampakkan kumbang
Kumbang kumbang diterbangkan
Untuk mencampakkan bunga

Mengapa bunga harus layu?
Setelah kumbang dapatkan madu
Mengapa kumbang harus ingkar?
Setelah bunga tak lagi mekar

Kontrasmu Bisu

Pernahkah Anda berada didalam sebuah gedung perkantoran mewah di lantai atas, lalu menengok keluar jendela melihat suasana yang ada dibawah. Lalu sempatkah memperhatikan atap-atap rumah yang ada dibawah dan melihat segerombol atap dari bahan seadanya penuh tambalan sana-sini dan disampingnya bertumpuk barang bekas diantara sampah-sampah yang berserakan.
Itulah gambaran dari lagu Iwan Fals ini yang sampai sekarang masih saja ada di kota-kota besar. Kontrasmu Bisu. Sebuah ketimpangan yang ada di kota Jakarta dimana bangunan mewah nan megar gagah berdiri disamping bangunan kumuh. Sama dengan manusianya, disaat si kaya bingung mau dibuang kemana lagi uangnya yang berlebihan, si miskin sibuk berpikir apa yang bisa dimakan nanti malam. Pembangunan yang merata tidak terjadi disini. Yang ada adalah si kaya bertambah kaya, si miskin makin merana.




Kontrasmu Bisu
Iwan Fals ( Album Ethiopia 1986 )


Tinggi pohon tinggi berderet setia lindungi
Hijau rumput hijau tersebar indah sekali
Terasa damai kehidupan di kampungku
Kokok ayam bangunkan ku tidur setiap pagi

Tinggi gedung tinggi mewah angkuh bikin iri
Gubuk gubuk liar yang resah di pinggir kali
Terlihat jelas kepincangan kota ini
Tangis bocah lapar bangunkan ku dari mimpi malam

Lihat dan dengarlah riuh lagu dalam pesta
Diatas derita mereka masih bisa tertawa
Memang ku akui kejamnya kota Jakarta
Namun yang kusaksikan lebih parah dari yang kusangka

Jakarta oh Jakarta
Si kaya bertambah gila dengan harta kekayaannya
Luka si miskin semakin menganga

Jakarta oh Jakarta
Terimalah suaraku dalam kebisinganmu
Kencang teriakku semakin menghilang

Jakarta oh Jakarta
Kau tampar siapa saja saudaraku yang lemah
Manjakan mereka yang hidup dalam kemewahan

Jakarta oh Jakarta
Angkuhmu buahkan tanya
Bisu dalam kekontrasannya

Jakarta oh Jakarta
Jakarta oh Jakarta
Jakarta oh Jakarta
Jakarta oh Jakarta
Jakarta oh Jakarta

Willy


Nama ini menjadi judul lagu Iwan Fals dalam album Ethiopia (1986). Willy adalah nama panggilan untuk penyair terkenal Indonesia Willibrordus Surendra Broto Rendra yang lebih kita kenal dengan WS. Rendra. Dalam lagu ini Iwan Fals seperti kehilangan figur seorang Rendra. Ia bertanya dimanakah gerangan dirinya yang dulu, dimana lantang suaranya.
 
Si anjing liar dari Jogjakarta, begitu julukan yang diberikan untuk WS. Rendra yang terkenal dengan puisi-puisinya yang keras mengkritisi keadaan sosial dan politik Indonesia. Pada masa itu, Rendra sedang menyendiri entah dimana sebab dikabarkan dia mendapat ancaman dari pemerintah untuk menghentikan membuat karya puisi yang menyindir pemerintah saat itu. Rendra adalah sahabat Iwan Fals, wajar bila Iwan merasa kehilangan seorang yang sejalan pemikiran dengannya walau lewat media yang berbeda.
 
Pada sebuah kesempatan konser tunggal yang ditayangkan live di TV tahun 2004, Iwan Fals menyanyikan lagu ini. Ditengah lagu, mata Iwan Fals berkaca-kaca dan seperti meneteskan air mata. Iwan sempat tidak bersuara untuk beberapa saat meski musik terus mengalun. Tentu ada kenangan yang mendalam untuk Iwan Fals tentang lagu ini dan figur penyair Rendra yang dikisahkan.


Willy
Iwan Fals ( Album Ethiopia 1986 )


Si anjing liar dari Jogjakarta
Apa kabarmu ?
Kurindu gonggongmu
Yang keras hantam cadas

Si kuda binal dari Jogjakarta
Sehatkah dirimu ?
Kurindu ringkikmu
Yang genit memaki onar

Dimana kini kau berada ?
Tetapkah nyaring suaramu ?

Si mata elang dari Jogjakarta
Resahkah kamu ?
Kurindu sorot matamu
Yang tajam belah malam

Dimana runcing kokoh paruhmu ?
Tetapkah angkuhmu hadang keruh ?

Masih sukakah kau mendengar ?
Dengus nafas saudara kita yang terkapar
Masih sukakah kau melihat ?
Butir keringat kaum (orang) kecil yang terjerat
Oleh slogan slogan manis sang hati laknat
Oleh janji janji muluk tanpa bukti

Dimana kini kau berada ?
Tetapkah nyaring suaramu ?
Dimana runcing kokoh paruhmu ?
Tetapkah angkuhmu hadang keruh ?

Tikus Tikus Kantor

Membuat perumpamaan manusia sebagai binatang sudah kerap ditulis Iwan Fals dalam lirik-lirik lagunya. Dalam lagu ini Iwan bermain di Kucing dan Tikus. Tikus disini digambarkan adalah sosok pegawai kantor yang rakus, licik dan penjilat. Sedangkan kucing disini diterjemahkan sebagai sosok pimpinan yang tidak disiplin dan suka korupsi atau terima suap.
Perpaduan yang bagus, mengingat karakter kedua binatang tersebut mirip dengan karakter orang-orang yang bersifat seperti itu. Coba perhatikan orang-orang model penjilat seperti tikus dalam lagu ini. Hampir mudah kita jumpai di setiap kantor-kantor instansi pemerintahan/swasta. Bawahan yang menjilat atasannya, berlagak sopan dan baik didepan atasannya. Namun begitu atasannya pergi, mulailah mereka bertindak kotor dan berbuat kasar. Begitu juga orang-orang model kucing seperti dalam lagu ini. Seorang atasan atau pimpinan instansi yang kerap mempersulit urusan bawahannya. Lalu dengan terang terangan meminta uang suap untuk melancarkan urusan itu. Ini sudah bukan rahasia lagi, dimana-mana mudah kita jumpai. Pantas saja negara ini menjadi surganya para koruptor karena tindakan mereka yang tidak diancam dengan hukuman yang tegas.


Tikus Tikus Kantor
Iwan Fals ( Album Ethiopia 1986 )


Kisah usang tikus tikus kantor
Yang suka berenang di sungai yang kotor
Kisah usang tikus tikus berdasi
Yang suka ingkar janji lalu sembunyi

Dibalik meja teman sekerja
Didalam lemari dari baja

Kucing datang cepat ganti muka
Segera menjelma bagai tak tercela
Masa bodoh hilang harga diri
Asal tak terbukti ah tentu sikat lagi

Tikus tikus tak kenal kenyang
Rakus rakus bukan kepalang
Otak tikus memang bukan otak udang
Kucing datang tikus menghilang

Kucing kucing yang kerjanya molor
Tak ingat tikus kantor datang menteror
Cerdik licik tikus bertingkah tengik
Mungkin karena sang kucing pura pura mendelik

Tikus tau sang kucing lapar
Kasih roti jalanpun lancar
Memang sial sang tikus teramat pintar
Atau mungkin si kucing yang kurang ditatar

14-04-84

Judul lagu ini adalah sebuah tanggal. Yaitu tanggal 14 bulan 4 tahun 1984. Apa yang terjadi pada tanggal tersebut. Ternyata pada tanggal itu Iwan Fals di introgasi oleh aparat keamanan di Pekanbaru setelah sebelumnya dia konser di kota tersebut dan menyanyikan lagu-lagu yang mengkritik pemerintah saat itu. Rupanya penguasa tidak suka dan memaksa Iwan menjelaskan maksud dan tujuan membuat lagu bertema kritis.
Lagu ini berisi ketakutan Iwan Fals pada proses Introgasi tersebut. Iwan Fals juga begitu merindukan keluarga yang ditinggalkan karena dia harus bolak-balik selama berhari-hari untuk menjalani proses introgasi ini. Dan di akhir lagu, Iwan Fals menitipkan pesan kepada istrinya agar jangan didik anak-anak mereka menjadi penakut. Iwan berharap anaknya menjadi pemberani melawan ketidak adilan yang ada.





14 – 04 – 84
Karya : Iwan Fals ( Album Ethiopia 1984 )


Tahukah kau
Kurindu dirimu
Tahukah kau

Rasakah kasih
Cintaku putih
Rasakah kasih

Saat gelisah begitu buas hancurkan jiwa
Saat tak kuat lagi memendam marah

Sungguh aku cinta (sayang) kau

Jangan didik anak kita penakut
Jangan ajar anak kita pengecut
Tolong kabarkan tinjuku untuknya
Demi kebenaran yang nyata

Istriku manis senyum yang manis
Anakku jantan tertawalah lantang
Istriku manis jangan menangis
Anakku jantan murkalah jantan

Sebelum Kau Bosan

Lirik lirik yang spontan, lugas dan sederhana kerap menghiasi lagu bertema cinta karya Iwan Fals. Seperti dalam lagu Sebelum Kau Bosan ini. Iwan Fals mendahului pasangannya yang rupanya bakal mengatakan bosan dengan dirinya. Maka dia bilang sebelum kau bosan tolonglah ucapkan. Namun di bait lainnya Iwan Fals ingin dia tetap dihargai dengan berkata bila kau tak suka, bilang saja suka.
Ini lagu yang bagus. Pada versi awal yang ada dalam album Ethiopia tahun 1984, lagu ini dinyanyikan dengan tempo sedikit cepat. Kemudian dalam album Antara aku kau dan Bekas Pacarmu tahun 1988, lagu ini diaransemen ulang dengan tempo yang sedikit lambat dan karakter vocal Iwan Fals yang mulai berat.





Sebelum Kau Bosan
Karya : Iwan Fals ( Album Ethiopia 1984 / Album Antara Aku Kau Dan Bekas Pacarmu 1988)


Sebelum kau bosan sebelum aku menjemukan
Tolonglah ucapkan dan tolong engkau ceritakan
Semua yang indah semua yang cantik
Berjanjilah

Ciptakanlah lagu yang kau anggap merdu dik
Nyanyikan untukku sungguh aku perlu itu
Bila kau tak suka bilang saja suka
Berjanjilah

Pergilah kau pergi
Dan janganlah kembali
Bila itu kau ingini
Kumohon jangan katakan pergi

Jarak telah jauh yang sudah kita tempuh dik
Coba pikir itu sebelum tinggalkan aku
Teruslah berdusta sampai engkau muak
Berjanjilah

Lonteku

Lagu yang seharusnya tidak perlu tercipta dan tidak perlu direkam untuk kemudian dijual. Mungkin itu yang ada di benak Iwan Fals. Baca saja judulnya. Kisah percintaan antara seorang pemuda dengan pelacur. Pernah saya baca kisah setelah lagu ini beredar, dikabarkan Iwan Fals sempat bertemu ibu-ibu dan dia ditegur karena membuat lagu ini yang kemudian dinyanyikan oleh anak si Ibu yang masih kecil tanpa mengerti apa arti sebenarnya.
Dalam sebuah kesempatan wawancara, lagu ini diakui Iwan Fals sebagai karya yang tidak perlu di buat. Dia mengaku menyesal membuat lagu ini karena memiliki makna yang tidak baik. Istri Iwan Fals pun juga tidak menyukai lagu ini.


Lonteku
Karya : Iwan Fals ( Album Ethiopia 1986 )


Hembusan angin malam waktu itu
Bawa lari ku dalam dekapanmu
Kau usap luka disekujur tubuh ini
Sembunyilah sembunyi ucapmu

Nampak jelas rasa takut di wajahmu
Saat petugas datang mencariku

Lonteku terima kasih
Atas pertolonganmu di malam itu
Lonteku dekat padaku
Mari kita lanjutkan cerita hari esok

Walau kita berjalan dalam dunia hitam
Benih cinta tak pandang siapa
Meski semua orang singkirkan kita
Genggam tangan erat erat kita melangkah

Berandal Malam Di Bangku Terminal

Sosok berandalan yang tertidur di dalam terminal yang masih sepi penumpang. Dia tidak mempunyai tempat tinggal, tidur dimana saja dan berbuat apa saja untuk menyambung hidupnya. Berandal kecil itu berharap pagi tidak datang, sebab kalau pagi datang maka dia tidak memiliki tempat istirahat dan segudang persoalan siam menyambutnya.

Dalam lagu ini Iwan Fals bernyanyi dengan nada-nada tinggi. Kalau sekarang Iwan menyanyikan ulang lagu ini, bisa dipastikan kekuatan vocalnya tidak akan sampai pada nada tinggi. Irama ballads cukup menyayat pendengaran kita menembus sampai kedalam kalbu karena paduan lirik yang bagus.




Berandal Malam Di Bangku Terminal
Iwan Fals ( Album Ethiopia 1986 )


Sebentar lagi pagi kan datang
Walau sang bulan malas untuk pulang
Di bangku terminal benakmu bertanda
Gelisah seorang merasa terbuang

Sedetik ingatnya seribu angannya
Dambakan malam terus berbintang
Di bawah sadarnya nasib bercerita
Hangatnya surya bara neraka

Sampai kapan kau akan bertahan
Dicaci langit tak sanggup menjerit
Hitam awan pasrah kau jilati
Kusam kau dekap dengan muak kau lelap
Pagi yang hingar dengan sadar engkau gentar

Jangan jangan pagi kau hadirkan
Biarkan malam terus berjalan
Jangan jangan mentari kau terbitkan

Jangan jangan pagi kau datangkan
Kumohon dan aku harapkan
Jangan jangan mentari kau terbitkan

Dengarlah tuhan apa yang dibisikkan
Berandal malam di bangku terminal
Postingan Lama Beranda

Entri Terfals

Like

 

Kalender

Total Pengunjung

follow Me

Followers

 

Footer

Oi Pagar Alam