Tampilkan postingan dengan label 19 Oktober (1988). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 19 Oktober (1988). Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 April 2013

1910


Ini salah satu bencana besar yang pernah dialami bangsa Indonesia. Pada saat itu terjadi kecelakaan kereta api yang memakan banyak korban jiwa dan terjadi di daerah Bintaro-Jakarta. Pada tanggal 19 Oktober 1987 kejadian ini mengejutkan kita semua. Sebuah kecelakaan yang terjadi akibat kelalaian manusia sendiri.
Berita kecelakaan ini diberitakan besar-besaran oleh media, sebab pada masa itu sangat jarang terjadi kecelakaan yang memakan korban jiwa begitu banyak. Iwan Fals peduli dengan kasus ini dan dia membuat lagu berjudul sama dengan tanggal kejadian, yaitu 1910.

Tragedi Bintaro adalah peristiwa tabrakan hebat dua buah kereta api di daerah Pondok Ranji, Bintaro, Jakarta Selatan pada tanggal 19 Oktober 1987 yang merupakan kecelakaan terburuk dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia. 
Sebuah kereta api yang berangkat dari Rangkasbitung, bertabrakan dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun Tanah Abang. Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu musibah paling buruk dalam sejarah transportasi di Indonesia. 
Penyelidikan setelah kejadian menunjukkan adanya kelalaian petugas Stasiun Sudimara yang memberikan sinyal aman bagi kereta api dari arah Rangkasbitung, padahal tidak ada pernyataan aman dari Stasiun Kebayoran. Kecelakaan terjadi di antara Stasiun Pondokranji dan Pemakaman Tanah Kusir, Sebelah Utara SMUN 86 Bintaro dekat tikungan melengkung Tol Bintaro, tepatnya di lengkungan S, berjarak kurang lebih 200 m setelah palang pintu Pondok Betung. 
Akibat tragedi tersebut, masinis Slamet Suradio diganjar 5 tahun kurungan. Ia juga harus kehilangan pekerjaan. Nasib yang serupa juga menimpa Adung Syafei, kondektur KA 225. Dia harus mendekam di penjara selama 2 tahun 6 bulan. Sedangkan Umrihadi (Pemimpin Perjalanan Kereta Api, PPKA, Stasiun Kebayoran Lama) dipenjara selama 10 bulan. Jumlah korban jiwa 156 orang, dan ratusan penumpang lainnya luka-luka


1910
Karya : Iwan Fals ( Album ‘1910’ 1988 )


Apa kabar kereta yang terkapar di senin pagi
Di gerbongmu ratusan orang yang mati
Hancurkan mimpi bawa kisah

Air mata
Air mata

Belum usai peluit belum habis putaran roda
Aku dengar jerit dari Bintaro
Satu lagi catatan sejarah

Air mata
Air mata

Berdarahkah tuan yang duduk dibelakang meja
Atau cukup hanya ucapkan belasungkawa
Aku bosan

Lalu terangkat semua beban dipundak
Semudah itukah luka luka terobati

Nusantara tangismu terdengar lagi
Nusantara derita bila berhenti
Bilakah
Bilakah

Sembilan belas Oktober tanah Jakarta berwarna merah
(merah darah)
Meninggalkan tanya yang tak terjawab
Bangkai kereta lemparkan amarah

Air mata
Air mata

Nusantara langitmu saksi kelabu
Nusantara terdengar lagi tangismu
Nusantara kau simpan kisah kereta
Nusantara kabarkan marah sang duka

Saudaraku pergilah dengan tenang
Sebab duka sudah tak lagi panjang
Saudaraku pergilah dengan tenang

Pergilah dengan tenang saudaraku
Saudaraku pergilah dengan tenang

Saudaraku pergilah dengan tenang
Sebab duka sudah tak lagi panjang
Saudaraku

Saudaraku

Engkau Tetap Sahabatku

Ini adalah salah satu lagu Iwan Fals yang saya sukai. Liriknya bertutur tentang pelarian seorang sahabat. Dia berlari untuk menyelamatkan diri dari kejaran aparat karena dianggap berbuat kriminal. Lalu Iwan Fals dalam lagu ini berposisi sebagai kawan yang menyediakan tempat untuk bermalam dalam pelariannya.

Saya kerap berpikir, apakah lirik dalam lagu ini adalah kisah nyata? Iwan Fals juga tidak pernah bercerita tentang sesuatu dibalik lagu ini. Mendengar liriknya saya seakan terbawa dalam suasana penuh ketakutan dan budi baik seorang kawan yang rela tempatnya menjadi tempat persembunyian seorang buronan polisi.





Engkau Tetap Sahabatku
Iwan Fals ( Album ‘1910’ 1988 )


Dia adalah sahabatku bahkan lebih
Dia adalah yang diburu datang padaku
Sekedar lepas lelah dan sembunyi untuk berlari lagi

Dia adalah yang terbuang mengetuk pintuku
Penuh luka dipunggungnya merah hitam
Dia menjadi terbuang setelah harapannya dibuang

Bapaknya pegawai kecil kelas sandal jepit
Yang kini didalam penjara sebab bela anaknya
Untuk darah daging yang tercinta selesaikan sekolah

Sahabatku gantikan bapaknya coba mencari kerja
Namun yang didapat cemooh harga dirinya berontak
Lalu dia tetapkan hati hancurkan sang pembual

Air putih aku hidangkan
Aku dipersimpangan
Aku hitung semua lukanya
Seribu bahkan lebih sejuta lebih

Pagi buta dia berangkat diam diam
Masih sempat selimuti aku yang tertidur
Aku terharu doaku untukmu

Sebutir peluru yang tertinggal dibawah bantalnya
Beri tali jadikan kalung lalu kukenakan
Sekedar mengingatmu kawan yang terus berlari

Selamat jalan kawan
Selamat renangi air mata
Hei sahabat yang terbuang

Engkau sahabatku tetap sahabatku
Engkau sahabatku tetap sahabatku

Engkau sahabatku tetap sahabatku
Tetap sahabatku

Engkau sahabatku tetap sahabatku

Ibu

Inilah lagu Iwan Fals yang cukup menggugah emosi pendengarnya. Kalimat-kalimat pujian kepada seorang Ibu yang telah melahirkan dan membesarkan anaknya dinyanyikan Iwan yang merasa tidak akan pernah mampu membalas pengorbanan seorang Ibu.

Seperti jawaban Nabi untuk sebuah pertanyaan: "siapakah yang lebih dulu dihormati oleh seorang anak?". Jawab Nabi, "ibumu, kemudian ibumu, lalu ibumu... baru ayahmu..".

Itulah mengapa seorang ibu harus lebih kita hormati dibanding ayah (bukan berarti ayah tidak penting dihormati). Karena seorang ibu yang berjuang mati-matian saat melahirkan kamu. Ibulah yang berjuang membesarkanmu, memandikanmu, menyuapi makanmu, mengganti popokmu. Ibulah yang paling khawatir ketika di masa remajamu kamu keluar pergi lalu pulang larut malam. Ibulah yang ketakutan ketika pacarmu mengajak pergi nonton berduaan. Ibulah yang menangis di hari pernikahanmu. Ibulah yang sibuk mengatur dan menata rumah barumu. Ibulah yang lebih berkuasa menggendong dan menimang anak-anakmu.
Maka.. masihkah kamu durhaka kepada ibumu? Masihkah kamu membantah nasehat ibumu?.
Doa seorang ibu akan dikabulkan. Maka, sayangilah ibumu, mohonlah kepadanya untuk banyak mendoakan kebaikan untuk dirimu. Turutilah keinginan ibumu meskipun itu sulit kau lakukan. Usahakan beliau selalu bahagia menyaksikan apa yang kamu lakukan. Jangan kecewakan dia....

Ibu
Karya : Iwan Fals ( Album ‘1910’ 1988 )

Ribuan kilo
Jalan yang kau tempuh
Lewati rintang
Untuk aku anakmu

Ibuku sayang
Masih terus berjalan
Walau tapak kaki
Penuh darah penuh nanah

Seperti udara
Kasih yang engkau berikan
Tak mampu kumembalas
Ibu… ibu…

Ingin ku dekat
Dan menangis dipangkuanmu
Sampai aku tertidur
Bagai masa kecil dulu

Lalu doa doa
Baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas
Ibu… ibu…

Mimpi Yang Terbeli

Keberadaan pusat perbelanjaan modern memang menjadi salah satu ukuran majunya sebuah bangsa. Namun bagi kebanyakan rakyat Indonesia, keberadaan pusat belanja modern itu tak ubahnya sebagai tempat pamer untukmenggaet pembeli berduit saja. Maka jika warga yang berpenghasilan pas-pasan cukup harus puas menjadi penonton barang-barang berharga mahal yang dipajang disana.
Bagaikan mimpi yang terbeli. Mereka menjadikan barang-barang mahal itu sebagai mimpi yang mustahil bisa dibeli sebab harganya tinggi. Karena itulah muncul pencuri-pencuri yang memfokuskan diri beroperasi disetiap pusat perbelanjaan. Kemajuan melahirkan kriminalitas akibat tidak meratanya kesejahteraan dan hukum yang tidak tegas serta mudah diperjual belikan.





Mimpi Yang Terbeli
Karya : Iwan Fals ( album ‘1910’ 1988 )

Berjalan di situ
Di pusat pertokoan
Melihat-lihat barang-barang
Yang jenisnya beraneka ragam

Cari apa di sana
Pasti tersedia
Asal uang di kantong cukup
Tentu tak ada soal

Aku ingin membeli
Kamu ingin membeli
Kita ingin membeli
Semua orang ingin membeli

Apa yang dibeli ?
Mimpi yang terbeli
Sebab harga barang tinggi
Tiada pilihan selain mencuri

Sampai kapan mimpi mimpi itu kita beli ?
Sampai nanti sampai habis terjual harga diri
Sampai kapan harga harga itu melambung tinggi ?
Sampai nanti sampai kita tak bisa bermimpi

Segala produksi ada disini
Menggoda kita untuk memiliki
Hari hari kita berisi hasutan
Hingga kita tak tahu diri sendiri

Melihat anak kecil
Mencuri mainan
Yang harganya tak terjangkau
Oleh bapaknya yang maling

Balada Orang Orang Pedalaman

Kisah orang-orang dipedalaman yang jauh dari kemajuan teknologi, jauh dari ilmu pengetahuan modern. Orang-orang kota memperdaya mereka, membodohi mereka dengan segala cara, menipu mereka dengan janji-janji yang tidak dipahami. Lalu orang-orang kota menguras habis kekayaan alam wilayahnya, membabat pohon-pohon mereka, membunuh hewan-hewan liar sumber makanan mereka, merampas lahan mereka... 
Dan orang-orang pedalaman menatap dengan mata kosong masih tak mengerti apa yang terjadi. Mereka di usir dari desanya, mereka menjadi kacung ditanah airnya sendiri...




Balada Orang Orang Pedalaman
Karya : Iwan Fals ( Album ‘1910’ 1988 )


Balada orang orang pedalaman
Di hutan di gunung dan di pesisir
Manusia yang datang dari kota
Tega bodohi mereka

Lihatlah tatapannya yang kosong
Tak mengerti apa yang terjadi

Tak tajam lagi tombak panah dan parang
Tak ampuh lagi mantra dari sang pawang
Dimana cari hewan buruan
Yang pergi karena senapan

Dimana mencari ranting pohon
Kalau sang pohon tak ada lagi

Pada siapa mereka tanyakan hewannya
Ya pada siapa tanyakan pohonnya
Saudaraku di pedalaman menanti
Sebuah jawaban yang tersimpan dilangit
Lewatmu kembali

Balada orang orang pedalaman
Yang menari dan bernyanyi
Dihalau bising
Ribuan deru gergaji

Nak - 2

Sebuah lagu tentang harapan orang tua kepada anaknya. Sebenarnya lirik lagu ini semacam keputus asaan orang tua menghadapi masa depan anaknya yang dirasa susah dicapai dengan cara yang wajar. Iwan Fals mengkritik kehidupan dimana uang berkuasa atas segalanya.

Iwan Fals meminta anaknya untuk sekolah biasa saja, sebab baginya sekolah itu hanya untuk mendapatkan gelar, maka gelar lewat jalur resmi atau membeli itu sama saja. Iwan Fals berharap anaknya menjadi orang yang licik agar bisa mengimbangi lawan-lawannya. Sebuah nasehat yang sebenarnya bukan untuk dipanuti, namun Iwan menyindir kondisi yang ada.




Nak - (2)
Iwan Fals (Album ‘1910’ 1988)

Nak dengarlah bicara bapakmu
Yang kenyang akan hidup terang dan redup
Letakkan dahulu mainan itu
Duduk dekat bapak sabar mendengar

Kau anak harapanku yang lahir di zaman gersang
Segala sesuatu ada harga karena uang

( ya ya ya ya )

Kau anak dambaanku yang besar di kancah perang
Kau harus kuat yakin pasti menang

Sekolahlah biasa saja
Jangan pintar pintar percuma
Latihlah bibirmu agar pandai berkicau
Sebab mereka sangat perlu kicau yang merdu

Sekolah buatmu hanya perlu untuk titel
Peduli titel diktat atau titel mukjizat

( ya ya ya ya )

Sekolah buatmu hanya perlu untuk gengsi
Agar mudah bergaul tentu banyak relasi

Jadi penjilat yang paling tepat
Karirmu cepat uang tentu dapat
Jadilah Durno jangan jadi Bimo
Sebab seorang tenang punya lidah sejuta

Hidup sudah susah jangan dibikin susah
Cari saja senang walau banyak hutang
Munafik sedikit jangan terlalu jujur
Sebab orang jujur hanya ada di komik

Pilihlah jalan yang mulus tak banyak batu
Sebab batu batu bikin jalanmu terhambat

( ya ya ya ya )

Pilihlah jalan yang bagus tak ada paku
Sebab paku itu sadis apalagi yang berkarat

Jadilah kancil jangan buaya
Sebab seekor kancil sadar akan bahaya
Jadilah bandit berkedok jagoan
Agar semua sangka engkau seorang pahlawan

Jadilah bunglon jangan sapi
Sebab seekor bunglon pandai baca situasi
Jadilah karet jangan besi
Sebab yang namanya karet paham kondisi

Anakku aku nyanyikan lagu
Waktu ayah tak tahan lagi menahan...
Modar...

Semoga Saja Kau Benar

Kalau diperhatikan lirik lagu ini bercerita tentang orang yang merantau ke negeri seberang untuk mencari nafkah. TKI istilahnya. Pesona negeri seberang memang sangat menggoda. Disana pekerja kelas teri digaji begitu tinggi, pekerjaan juga mudah didapat. Sangat jauh berbeda dengan kondisi di tanah air dimana susah mendapatkan kerja, kalaupun dapat maka hanya menjadi sapi perahan yang diayar rendah.
Semoga saja kau benar dengan pilihanmu merantau ke negeri orang....



Semoga Saja Kau Benar
Iwan Fals ( Album ‘1910’ 1988 )


Berbondong bondong orang cumbui angan
Dibibir pelabuhan
Tinggalkan tanah lahir desa tercinta
Menuju pulau surga

Selamat tinggal semua
Bukan aku tak cinta
Tiada lagi tersisa
Bahkan mimpi kubawa

Isak tangisan bayi dalam gendongan
Tak buyarkan lamunan
Gaung sirine kapal jangkar diangkat
Segeralah berlayar

Selamat tinggal semua
Bukan aku tak cinta
Tiada lagi tersisa
Bahkan mimpi kubawa

Perlahan lahan kapal jauhi tepi
Malas mengangkut mimpi
Mercu suar dermaga dan burung camar
Mengusap air mata

Selamat jalan kawan
Bukan aku tak cinta
Mungkin saja kau benar
Semoga saja kau benar

Buku Ini Aku Pinjam

Kabarnya lagu ini adalah lagu pesanan label music tempat Iwan Fals rekaman. Mereka meminta Iwan Fals membuat lagu bertema cinta dengan target anak sekolah. Tujuannya supaya albumnya laris dijual. Kabarnya pula Iwan Fals kurang senang dengan cara seperti ini, dia terbiasa membuat lagu lepas bebas sedapatnya inspirasi, bukan disuruh-suruh.

Tapi kenyataannya berbeda, lagu ini justru menjadi populer. Albumnya (album 1910) laku keras. Karakter Iwan Fals berhasil membuat lagu ini bernyawa untuk semua kalangan. Bukan hanya anak sekolah, tetapi juga status yang lainnya. Lagu ini sampai sekarang masih sering diputar di radio-radio. Mungkin Iwan Fals sekarang bersyukur, tidak selamanya yang dia tidak suka akan merugikan...


Buku Ini Aku Pinjam
Iwan Fals ( Album ‘1910’ 1988 )


Dia tahu dia rasa
Cinta ini milik kita

Di kantin depan kelasku
Disana kenal dirimu
Yang kini tersimpan dihati
Jalani kisah sembunyi

Di halte itu kutunggu
Senyum manismu kekasih
Usai dentang bel sekolah
Kita nikmati yang ada

Seperti hari yang lain
Kau senyum tersipu malu
Ketika kusapa engkau
Genggamlah jari genggamlah hati ini

Memang usia kita muda
Namun cinta soal hati
Biar mereka bicara
Telinga kita terkunci

Dia tau dia rasa
Maka tersenyumlah kasih
Tetap langkah jangan hentikan
Cinta ini milik kita

Buku ini aku pinjam
Kan kutulis sajak indah
Hanya untukmu seorang
Tentang mimpi mimpi malam

Dia tau dia rasa
Maka tersenyumlah kasih
Tetap langkah jangan hentikan
Cinta ini milik kita

Dia tau dia rasa
Maka tersenyumlah kasih
Tetap luka jangan hentikan
Cinta ini milik kita

Cinta ini milik kita
You might also like:

Ada Lagi Yang Mati

Berita kriminalitas masih dilagukan oleh Iwan Fals. Hingga sekarang kita sering mendengar berita pembunuhan, yang mayat korbannya dibuang disembarang tempat. Seperti dalam lagu ini Iwan Fals menggambarkan korban pembunuhan yang dibuang di tumpukan sampah. Kejadian ini memicu dendam berkepanjangan dan kerap kali berdampak lebar kemana-mana. Seperti tawuran antar kedua kubu sehingga terjadi seperti perang kota antara dua kubu preman.



Ada Lagi Yang Mati
Iwan Fals ( Album ‘1910’ 1988 )


Aku lihat orang yang mati
Diantara tumpukan sampah
Lehernya berdarah membeku
Bekas pisau lawannya tadi malam

Depan pasar dekat terminal
Pagi itu orang berkerumun
Melihat mayat yang membusuk
Tutup hidung sesekali meludah

Aku lihat orang menangis
Di selah gaduhnya suasana
Segera aku menghampiri
Dengan bimbang kubertanya padanya

Rupanya yang mati sang teman
Teman hitam hidup sepaham
Hanya kisah yang dilewati
Ia berdua ikat tali saudara

Sementara surya mulai tinggi
Panas terasa bakar kepala

Sisa darah orang yang mati
Disimpannya didalam hati
Lalu diam seperti batu
Sampai malam sampai semuanya pergi

Depan pasar dekat terminal
Ada lagi orang yang mati
Lehernya berdarah membeku
Bekas pisau lawannya tadi malam

Sementara surya mulai tinggi
Panas terasa bakar kepala

Sementara surya mulai tinggi
Panas terasa bakar kepala

Dendam ada dimana mana
Dijantungku dijantungmu
Dijantung hari hari
Dendam ada dimana mana

Dendam
Dendam

Dendam ada dimana mana

Dendam
Dendam
Dendam

Pesawat Tempurku

Mau tahu Iwan Fals sebagai seorang rocker sejati? Rasanya lagu ini pantas mewakili. Ini adalah lagu yang benar-benar berkarakter rock. Musiknya rock, vocal Iwan Fals juga super rock, tidak cempreng bahkan cenderung gahar.

Lirik lagunya juga bukan lirik picisan. Iwan Fals membawa pesawat tempur dalam lagu ini sebagai gambaran pada kekasihnya. Lagu ini juga pernah dipakai sebagai salah satu soundtrack sebuah film layar lebar berjudul Serigala Terakhir pada tahun 2009.




Pesawat Tempurku
Iwan Fals ( Album ‘1910’ 1988 )


Waktu kau lewat
Aku sedang mainkan gitar
Sebuah lagu yang kunyanyikan
Tentang dirimu

Seperti kemarin
Kamu hanya lemparkan senyum
Lalu pergi begitu saja
Bagai pesawat tempur

Hei kau yang manis
Singgahlah dan ikut bernyanyi
Sebentar saja nona
Sebentar saja hanya sebentar

Rayuan mautku
Tak membuat kau jadi galak
Bagai seorang diplomat ulung
Engkau mengelak

Kalau saja aku bukanlah penganggur
Sudah kupacari kau
Jangan bilang tidak bilang saja iya
Iya lebih baik daripada kau menangis

Penguasa penguasa
Berilah hambamu uang
Beri hamba uang
Beri hamba uang

Penguasa penguasa
Berilah hambamu uang
Beri hamba uang
Beri hamba uang
Beri hamba uang
Beri hamba uang

Oh ya andaikata
Dunia tak punya tentara
Tentu tak ada perang
Yang banyak makan biaya

Oh oh ya andaikata
Dana perang buat diriku
Tentu kau mau singgah
Bukan cuma tersenyum

Kalau hanya senyum yang engkau berikan
Westerling pun tersenyum
Bersinggahlah sayang pesawat tempurku
Mendarat mulus didalam sanubariku

Penguasa penguasa
Berilah hambamu uang
Beri hamba uang
Beri hamba uang

Penguasa penguasa
Berilah hambamu uang
Beri hamba uang
Beri hamba uang
Beri hamba uang
Beri hamba uang

Beri hamba uang
Beri hamba uang
Beri hamba uang
Beri hamba uang

Beri hamba uang

Beri hamba uang
Beri hamba uang
Beri hamba uang
Beri hamba uang
Postingan Lama Beranda

Entri Terfals

Like

 

Kalender

Total Pengunjung

follow Me

Followers

 

Footer

Oi Pagar Alam