Tampilkan postingan dengan label Mata Dewa (1989). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mata Dewa (1989). Tampilkan semua postingan

Senin, 08 April 2013

Sejarah Lahirnya Kantata Takwa

Kantata Takwa, nama kelompok musik legendaris beranggotakan para musisi-seniman berkualitas tinggi yang dimiliki Indonesia. Banyak dari kita cuma mengenal lagu-lagunya saja dan cukup puas melihat konser atau rekamannya, jarang kisah awal mula berdirinya kelompok musik ini diketahui.

Maka dari itu kami angkat kembali tulisan lama dari Yockie Suryo Prayogo mengenai Sejarah Lahirnya Kantata Takwa. Artikel ini tampil utuh di iwanfalsmania.com dengan seijin langsung dari penulisnya. Mungkin sudah ada yang pernah membacanya, namun kami yakin ada pula yang belum tahu. Semoga bisa menambah wawasan kita dan menjadi dokumentasi berharga musik Indonesia. (*)
 
 -----------------------------------------------------------------------------
Sejarah Lahirnya KANTATA TAKWA
oleh: Yockie Suryo Prayogo
-----------------------------------------------------------------------------
Sejarah lahirnya Kantata Takwa (Bagian 1)

Kantata Takwa, begitu panjang kisahnya yang bisa saya tulis mengenai kelompok musik tersebut. Karena itu pula saya terpaksa harus membagi-bagi tulisan Kantata dengan versi 1- 2 -3 dan selanjutnya nanti. Pada bagian ini saya hanya akan mengungkapkan kisah perkenalan saya dengan mas Djody hingga terbentuknya kesepakatan kelompok kerja kesenian tersebut, yang akhirnya disebut Kantata Takwa.

Pada tahun 1989, saat itu saya sedang gencar melakukan promo tour bersama kelompok Godbless bagi album kami yang bertajuk ”Semut Hitam”. Saat itu saya masih tinggal di sebuah rumah (kontrakan) di daerah Kebon Jeruk, tepatnya di jalan Anggrek no.52 Kelapa Dua Kebon Jeruk – Jakarta Barat.

Disela-sela kegiatan tour, saat sedang istirahat (jadwal kosong) kami semua selalu pulang kembali ke Jakarta. Suatu hari saya ditelpon oleh Jelly Tobing (drummer) mengajak saya untuk menemani dia berhura-hura (jam-session’an) main musik dirumah seorang kenalannya. Tidak ada target atau tujuan jangka panjang tertentu selain hanya untuk ”bersuka-cita”, bermusik sekedar hepi-hepian mengisi waktu yang luang saja. Temannya tersebut adalah penghobbi musik yang punya fasilitas latihan/nge-band dirumahnya. Lazimnya orang tajir-lah …intinya .. :) .

Saya sendiri setelah diberitahu oleh Jelly Tobing, bahwa orang tajir tersebut namanya Setiawan Djody rasanya sudah tidak asing terdengar dikuping saya. Siapa sih yang nggak kenal dia saat itu…, maksudnya dilingkungan teman-teman lama saya (di tahun 1970’an) yang saat itu banyak berkecimpung di ranah bisnis “puncak gunung”, nama Setiawan Djody adalah jaminan kertas bernilai yang nggak ber-seri istilahnya hehehe.. (sumpah ngga ngaruh.., saya nggak matre’..!).

Kebetulan juga tempat tinggalnya diwilayah Kemanggisan Raya – Kebon Jeruk, yang notabene tidak berapa jauh dari rumah kontrakkan saya sendiri (10 kilometer-an lah kira-kira jaraknya). Maka disuatu hari Minggu, melalui telpon setelah janjian sama Jelly Tobing saya bersedia dateng ke alamat tersebut… ber “jreng-jreng” ria.

Singkat kata kemudian saya menelusuri jalan Kemanggisan raya yang “krodit” penuh dengan oplet dan pedagang kaki lima dikanan kirinya. Saya mencari-cari nomer rumah yang diberikan pada saya……..fuih..! nggak keliatan jek! Abis kiri kanannya penuh toko-toko bangunan serta deretan warung dan kios-kios lainnya.

Barulah akhirnya saya lihat ada sebongkah pintu gerbang besar berwarna ijo, nyelip diantara warung gudeg dan bakul-bakul rokok pinggiran jalan lainnya. Hm…ini mungkin pikir saya. Lalu sesuai dengan ”petunjuk Jelly Tobing”, bahwa: ”Klakson aja” kalau sudah ketemu gerbang ijo tersebut. Maka saya klaksonlah pintu gerbang ijo tersebut dua kali saja, ”tin…tiiin” gitu bunyi BMW 520 (yang juga masih belom lunas kreditan-nya) hehehe.

Sekejap pintu besar tersebut dibukakan oleh dua orang bertubuh tegap berambut klimis berwajah sangar ..hihihi. Mereka yang kemudian saya kenal akrab bernama pak Parno dan lainnya huehehe. Begitu hidung mobil masuk pintu pagar, terbentang ruang parkiran luas yang kira-kira mampu menampung 12 mobil banyaknya. Masih dari dalam mobil saya melihat dua ekor patung macan Afrika (item dan guwedhe) yang terbuat dari batu semen, sepertinya emang bertugas untuk menyambut kedatangan tamu yang hadir disana. Ck..ck..ck..kagumnya saya… (ndesit tenan..!).

Ruang parkiran tadi adalah bagian terpisah yang dibatasi dengan tembok tinggi untuk memasuki ruang bangunan rumah yang sebenarnya. Maka setelah melewati tembok pintu besar (melewati macan-macan tadi) …semakin takjub saya dibuatnya…. Rasanya tidak sedang berada seperti di Jakarta, namun lebih mirip saya sebut seperti sedang di daerah Bali (mis: Ubud/Gianyar, dsb). Sementara bangunan rumahnya sendiri bergaya klasik aristokrat Eropa yang rada-rada serem dan mencekam (paling nggak buat saya… kebayang sih.. gimana kalau malam..) apalagi disana sini banyak dibangun semacam ”pura” lengkap dengan sesajen2nya. Tetapi sekejap ke-takjub’an saya sirna oleh suara bising ”gedebak.. degebug… nguinngg nguuueinng.. suara gitar bertalu-talu ..hehehe..” (koq gitar bertalu-talu sik?..salah yaakk…biarin deh..).

Tampak Jelly Tobing (biasa…super heboh..) dengan beberapa rekan musisi yang sudah saya kenal seperti Ferry Asmadibrata (musisi terkenal asal Bandung) dan juga ada seorang promotor kawakan… Sofyan Ali namanya ..wah ..seru…(Bla..bla..ba..). Lalu saya dikenalkan ke Setiawan Djody oleh Jely Tobing dan sejenak kami terlibat pembicaraan “ngalor ngidul” sebelum akhirnya saya ikut-ikutan gunjrang-gunjreng nge-berisikin tetangga…: ”JUMP!” by Van Hallen…eh’..tak begitu lama kemudian nongol Renny Jayusman (rocker wanita yang selalu kalungan se-lemari banyaknya..) hehehe.. Datang langsung nyamperin microphone… ”ohh yeeeaahhh…Jumppp!!!” hayaaahh…

Kelompok/pergaulan awal tersebutlah yang kemudian melahirkan gagasan untuk membiayai rekaman bagi ”Mata Dewa” nya Iwan Fals dengan arranger-nya Ian Antono. Yang juga kemudian melahirkan pemikiran Sofyan Ali untuk mendirikan join perusahaan bersama Setiawan Djody yang bernama ”AIRO”. Semenjak saat itulah hubungan pergaulan saya dengan Setiawan Djody kian hari kian akrab, sebagai sesama orang yang mencintai dunia kesenian (khususnya di musik).

Barulah pada tahap-tahap berikutnya akan saya ceritakan proses bergabungnya teman-teman musisi yang lain seperti Iwan Fals / Sawung Jabo dan lainnya.


Sejarah lahirnya Kantata Takwa (Bagian 2)

Semenjak itu saya kerap kali ditelpon mas Djody untuk membicarakan berbagai hal tentang perkembangan musik di Indonesia. Saya katakan bahwa pada intinya musisi ’alternatif’ (non industri) di Indonesia ini membutuhkan "uluran tangan" dari berbagai pihak yang ”peduli”, yang bukan hanya mikirin rumus dagang saja tapi juga mikir tentang "berkesenian" dalam artian yang lebih luas lagi.

Saya melihat ada ”concern” dari dia untuk mau berdialog dengan saya panjang lebar tentang hal tersebut. Maka ketika suatu kali dia menceritakan gagasannya yang ingin bekerja sama dengan AIRO (saat itu perusahaan tersebut masih menjadi milik Sofyan Ali) secara spontan saya langsung mendukungnya.

Dan pada saat itu hubungan kerjasama antara Sofyan Ali dengan Iwan Fals memang sudah berjalan (lewat berbagai konser Iwan sendiri saat-saat itu). Maka ketika konser 100 kota yang akan dimulai di Sumatra (Palembang) tersebut dicekal, Sofyan Ali berkeinginan untuk mengajak Iwan masuk studio guna rekaman.

Rekaman Iwan Fals tersebut akhirnya berlangsung dibawah management AIRO yang bekerjasama dengan SD (Setiawan Djody). Dan seingat saya sebelum masuk ke studio, SD pernah pergi berdua dengan Iwan ke Bali, dimana mereka pada akhirnya berhasil menciptakan lagu ”Mata Dewa”. SD sendiri mengatakan bahwa Mata Dewa adalah ”Sunset” yang mereka lihat ketika mereka gitaran berdua di pantai Kuta.

Maka berikutnya, ketika Iwan Fals sedang sibuk merekam Mata Dewa, saya sendiri mulai sering mengawal SD untuk bermain musik, baik itu dirumahnya atau terkadang beberapa kali ikut konser bersama dipanggung-panggung musik di Ancol. Formasinya waktu itu antara lain Jelly Tobing dsb. Kami hanya memainkan repertoar-repertoar bule. Umumnya lagu-lagu dari Led Zepllin dan U2 ada satu atau dua sih lagunya Van Hallen. Maklum kelompok tersebut memang bukan band serius, tapi hanya sekedar ”gathering” atau kelompok gaul dan per-temanan saja.

Jujur saja, lama-lama saya merasa ”eman” atau sayang kalau melihat kemampuan ”finansial” yang dimiliki hanya untuk ”proyek” kesenangan pribadi saja. Maka secara bertahap perlahan tapi pasti, saya mulai ”meracuni” isi otak pikiran SD agar mau membantu kondisi musik rock yang saat itu emang sudah mulai ”terkapar” tak berdaya.

Hanya ada satu orang di Indonesia kala itu yang secara spesifik berkutat di bisnis musik rock kita, yaitu Log Zelebour yang kebetulan juga mengelola management Godbless. Namun keberadaan Log Z. lebih pada pendekatan bisnis pragmatis, sedangkan yang saya anggap diperlukan musisi rock Indonesia adalah figur sponsor yang berfungsi sebagai seorang ”maesenas”. (yang nggak berpikir harus untung melulu).

Album Mata Dewa
Maka berikutnya, ketika Iwan Fals merilis album Mata Dewa dengan konsep (terobosan) ”direct sale” di Parkir Timur Senayan, sekali lagi saya meyakinkan SD agar melihat peluang kesempatan yang bisa dilakukan demi perkembangan musik rock di tanah air. Konsep terobosan diatas yang saya maksud adalah: kaset Mata Dewa tidak dijual oleh Sofyan Ali (AIRO) melalui agen-agen yang sudah ada (resmi) namun langsung dipajang di mobil-mobil box saat konser di Parkir Timur Senayan. Konsep tersebut terbukti ampuh serta membuka mata banyak orang, bahwa dominasi "Glodog" bisa dipatahkan asalkan ada sebuah sistem distribusi yang direncanakan secara matang.

Beberapa bulan kemudian setelah kaset tersebut terbilang ”sukses”, maka Setiawan Djody mengundang kita semua (saya, Iwan Fals dan WS.Rendra serta Sawung Jabo) guna ngobrol membicarakan segala kemungkinan kesepakatan yang bisa dicapai. Perkenalan antara WS.Rendra (mas Willy) dengan SD sudah terjalin semenjak lama sebelum saya sendiri hadir disana. SD selama itu memang bertindak sebagai maesenas bagi kebutuhan “Bengkel Teater” Rendra, bahkan sudah sempat mengadakan pementasan di New York dan beberapa kota di luar negeri dan sebagainya. Sedangkan Sawung Jabo sendiri adalah salah satu anggota dari Bengkel Teater tersebut.

Singkat kata, kami hampir menemukan kesepakatan untuk saling bekerja-sama, namun harus melewati satu masalah lagi atau anggap saja satu persyaratan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Yaitu, Iwan Fals bersama S.Jabo dan kawan-kawan yang lain ternyata sedang membuat lagu-lagu, dan sedang merencanakan untuk bisa direkam di studio dan sebagainya. Persyaratan tersebut meminta agar SD juga bersedia menangani masalah management recording bagi mereka. Agar saat nanti, bila kita bisa bekerja sama maka “master” dari produk rekaman tersebut tidak kemana-mana, alias dikelola oleh satu management saja.

SD menyetujui persyaratan tersebut dan bersedia bersama-sama Sofyan Ali untuk mengelola dibawah bendera/label AIRO. Disanalah awal mula gagasan besar tersebut beranjak. Saya pribadi sebenarnya juga tertarik untuk terlibat dalam rekaman yang akan mereka lakukan tersebut, namun saat itu saya lebih berfikir ”taktis” agar lebih berkonsentrasi ”mengawal” SD agar tidak berubah pikiran ..hehehe..., maklum ”roang tajir” kadang-kadang suse’ dipegang buntutnya. Saya sering menemani dia untuk workshop dirumahnya, sekaligus memberi masukan-masukan dan yang terpenting adalah melengkapi peralatan musik yang nanti dibutuhkan .

Singkat cerita, beberapa bulan kemudian rampunglah rekaman Iwan dan teman-teman tersebut (di GIN studio), lalu program jangka pendek berikutnya adalah ”launching” serta dilanjutkan dengan konser (promo).

Sayang, entah mengapa tiba-tiba saya mendapat berita bahwa Sofyan Ali mengundurkan diri dari kelompok kerja tersebut. Dan menyerahkan AIRO untuk dikelola sendiri oleh management SD yang saat itu bernama Multy Setdco. Saya sempat kecewa dengan hal tersebut.... sebab dimata saya belum ada orang Indonesia saat itu yang mampu mengelola bisnis pertunjukan musik dengan baik sekaliber Sofyan Ali.

Album Pertama SWAMI
Bertempat disebuah cafe di wilayah Kuningan tepatnya di Gedung milik Wisma Bakrie, maka launching album bertajuk SWAMI diluncurkan disana. Saya sendiri turut terlibat untuk ikut main secara live pada acara peluncuran album tersebut, padahal sewaktu proses rekamannya saya tidak terlibat. Kami (SWAMI) kemudian sempat pula konser di GOR Kridosono Jogjakarta sebelum pada akhirnya saya, Iwan, Jabo dan Rendra berkumpul lagi untuk melanjutkan pembicaraan guna merealisasikan ”kesepakatan awal” tentang kolaborasi bersama-sama. .

Hari-hari itu... adalah hari-hari dimana Bento dan Bongkar "menggelegar" bagaikan hendak memecah angkasa Indonesia.

Sejarah lahirnya Kantata Takwa (Bagian 3)

Sayang sekali saya tak ingat kapan persisnya pertemuan antar kami berlima terjadi, namun bisa dipastikan bahwa kami semua berkumpul ditempat kediaman SD di wilayah Kemanggisan Raya - Kebon Jeruk tersebut.

Satu hal yang cukup penting harus saya katakan disini, bahwa sebenarnya ada satu nama lagi yang saya usulkan diantara kami berlima yang sudah ada, saya usulkan untuk bergabung dalam kolaborasi tersebut. Yang bersangkutan sendiri secara prinsip bersedia serta sudah beberapa kali juga hadir disana untuk membahas dan membicarakan berbagai hal (dialog non teknis lainnya) sebagai persiapan untuk merumuskan konsep dan bentuk yang akan dirancang. Orang tersebut adalah salah satu sahabat saya sendiri, Harry Roesli (almarhum). Yang juga dijuluki sebagi Musisi mBeling dari kelompok DKSB.

Namun karena Harry Roesli seperti yang sudah kita ketahui bersama domisilinya berada di Bandung, maka hanya sesekali saja yang bersangkutan bisa hadir membicarakan berbagai hal, sedangkan kami berlima yang lainnya lebih sering dan intens untuk berkumpul . Maklum jarak antara Jakarta – Bandung saat itu harus ditempuh selama 4 jam’an lebih. Sebab belum ada jalan tol seperti sebagaimana kondisi saat ini.

Hari-hari berikutnya adalah disepakatinya kegiatan workshop secara rutin di Kebon Jeruk. Jelly Tobing beberapa kali turut hadir disana dan menemani kita untuk memainkan drum ketika datang. Komposisi orang-orang yang terlibat workshop di awal-awalnya adalah saya di keyboard, SD di gitar listrik, Iwan gitar akustik, Jabo di cuap-cuap, Jelly Tobing di drum, serta Edmond (seorang musisi ”lawas” asal kota Solo, yang dulu pernah tergabung bersama SD di Band Terencem pada tahun 70’an).

Figur yang terakhir ini adalah orang yang cukup ”unik” dimata kita semua. Selain gemar guyonan ”khas Jawa”, yang bersangkutan juga sering kita anggap sebagai ”guru spiritualnya” SD selama ini yang khusus untuk menemani SD main gitar sehari-hari sebelum kita semua ada dilingkaran pergaulan di Kebon Jeruk.. (hehehe).

Kegiatan tersebut dilakukan seminggu dua kali (kalau tidak salah) saya tidak ingat lagi tepatnya setiap hari apa kita berkumpul dan bermusik bersama. Yang pasti itu dilakukan disela-sela kegiatan konser promo bagi album Swami (Bento, Bongkar dll.).

Dalam suasana workshop diatas, secara tehnis kami semua sepakat untuk tidak mengacu kepada satu kredo-kredo tertentu, atau warna musik tertentu namun lebih kepada ”mengalir saja” seperti air. Bisa dibayangkan bagaimana suasana ”riuh” yang terdengar disana.

Riuh yang saya maksudkan adalah… gegap gempitanya suara drum yang menggebu dengan ditimpali oleh suara lengkingan gitar yang sangat dominan, serta teriakan-teriakan tanpa kalimat (sekedar na..na..na dsb) dari Iwan Fals dan Jabo. Ditambah lagi dengan tidak adanya ”jalur kord” yang sudah disepakati sebelumnya, alias 3 jurus plus. (nah…”plus” nya itu yang bisa 10 bisa 20 bisa 30… pokoke sak matek’e lah..) hehehe..

Saya sendiri menganggap suasana hiruk pikuk tersebut sangatlah dibutuhkan, agar saya bisa menangkap ”esensi” dari keinginan serta karakter ekspresi masing-masing personal yang ingin disampaikan. Walaupun harus saya akui seringkali saya terpaksa harus ”melindungi” kedua belah lobang dikuping saya dengan jari tangan… supaya dia nggak pecah atau paling tidak enggak jadi ”kendor” selaputnya ..hehehe. Terutama dari bunyi freqwensi yang dihasilkan dari perangkat Soldano nya SD, yang luar biasa tingginya serta keras suaranya.

Bayangkan saja, Soldano tersebut di-distribusikan ke 4 pasang Speaker Marshal 200 lewat 4 buah power tersendiri untuk memenuhi kebutuhan 4 stack speaker Marshall tadi. (seperti kita ketahui bahwa satu stack terdiri dari dua buah speaker). Artinya suara gitar SD disalurkan lewat 8 buah speaker dalam ruangan workshop yang hanya seluas sekitar 5 X 12 meteran. Sedangkan kami yang lainnya, apalagi saya… hanya bersandarkan pada satu buah amplifier ukuran kecil sekelas Fender Jazz Chorus untuk keybord, demikian juga yang lainnya.

Gubbraaakk.. Gedubrakkss… nguinggg.. nGGuuing… CiiaaTT.. wwwAAAAA..!!!, gitu deh’…kira-kira bunyinya dalam bentuk tulisan di huruf……hahaha..!

Sementara mas Willy saya lihat tampak sering hanya mampu bertahan sebentar didalam ruangan lalu berjalan kearah pintu untuk kemudian cukup melihat dan mendengar dari luar tempat latihan tersebut…sambil sesekali dahinya mengkerut… mungkin mencoba menangkap suasana yang cukup liar… lalu menuliskan sesuatu diatas kertas. Ya… saya baru sadar kemudian, rupanya mesin produksinya langsung terpicu dan langsung juga bekerja sebagai penulis naskah.

Hingga akhirnya saya putuskan didalam pertemuan berikutnya, bahwa program workshop selanjutnya haruslah dilakukan secara lebih sistemik. Tidak bisa lagi kita terus-terusan hanya mengeksplorasi suasana tanpa ada kemampuan dan keinginan untuk menangkap/merumuskan “esensi” dalam bentuk sebuah konsep agar lebih “real” dan konkrit. Saya mengusulkan agar latihan-latihan berikutnya cukup terdiri dari beberapa orang saja dari kami guna terciptanya lagu-lagu yang diinginkan.

Disepakati kemudian bahwa saya ditunjuk sebagai komandan untuk berhak memutuskan segala sesuatunya yang berkaitan dengan bunyi-bunyian musik. Rendra sebagai penulis teks dan lirik untuk melengkapi lagu. Sawung Jabo sebagai “tong sampah” yang berfungsi menampung berbagai “aspirasi” keinginan yang ingin disampaikan oleh semua pihak. Iwan Fals sebagai juru terompet yang mewakili suara semua pihak lewat suara nyanyian. Dan SD sebagai penyedia sarana dari berbagai hal teknis yang diperlukan.

Hari-hari berikutnya hanya saya, Iwan Fals, Sawung Jabo dengan ditemani oleh Robin (musisi warga Philipina) yang lebih bertugas merekam draft lagu-lagu kedalam computer lewat “cakewalk” nya. Kami bertigalah yang akhirnya bekerja secara detail untuk mengarang lagu secara kolaboratif bersama.

Demikianlah sejarah awal dari terbentuknya kelompok musik KANTATA TAKWA yang bisa saya rekam dalam tulisan. Semoga tulisan ini suatu saat bisa terus diperbaharui atau ditambahkan lagi berbagai kekurangannya atau bahkan dikoreksi bila diperlukan, agar bisa melengkapi kisah-kisah yang harus disimpan dalam ruang-ruang perpustakaan perjalanan musik di Indonesia pada umumnya.

Saya prihatin mengingat system per-dokumentasian kita yang sampai detik ini belum juga berfungsi sebagaimana seharusnya. Orang hanya diajarkan untuk melihat “hasil” dan menutup mata kepada “proses” serta dasar “filosofi” yang melatar belakanginya.

Selamat pagi Indonesia , hari sudah menjelang sore....

Teks asli artikel ini diposting pada 8 Juli 2008, oleh Yockie Suryo Prayogo
Diambil dari: http://jsops.multiply.com/reviews/item/22


 -----------------------------------------------------------------------------
Kantata Takwa
oleh: Yockie Suryo Prayogo
-----------------------------------------------------------------------------

Kantata Takwa, adalah sebuah proses interaksi berbagai ego-ego besar yang dipayungi WS.Rendra sebagai penasehat spiritual dan penulis sajak/lirik, Setiawan Djody sebagai fasilitator untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhan pembiayaan dan lainnya, Iwan Fals sebagai peniup trompet atau juru vocalnya, Sawung Jabo menyediakan dirinya dengan istilah “tong sampah” untuk menampung segala uneg-uneg bersama yang suatu saat harus ditampung dan didistribusikan secara demokratis, saya sebagai designer musik atau bahasa asingnya arranger.

Karena posisi masing-masing diatas sudah sangat jelas, maka bagi saya selaku arranger, garis batas ruang kerja saya juga tampak semakin jelas.

Proses kerja :
Dua minggu pertama, hanya saya, Sawung Jabo dan Iwan yang melakukan eksplorasi suara untuk membuat lagu. Kami bertiga ‘ngarang’ bersama di Kebon Jeruk (piano dan 2 buah akustik gitar). Saya mencatat semua kemungkinan-kemungkinan dan ambience yang muncul dari eksplorasi tersebut.

Setelah selesai 2 mingguan (kurang lebihnya), saya sendirian melakukan proses kerja awal Studio (saat itu Gin Std). Saya menterjemahkan ulang bahasa lagu yang telah kita hasilkan bertiga lewat piano, tentunya juga dengan pendekatan sebuah aransemen. (untuk menyelesaikan musik dasarnya saya dibantu: Donny F, Totok T, Eet S, Reidy Noor, Budi Haryono, Innsisri dan lain-lainnya).

Setelah musik dasar selesai, saya merekam “guide vocal” sebagai panduan nada bagi Iwan Fals dan Sawung Jabo. Selanjutnya mereka relatif harus mengikuti alur melody lagu yang saya contohkan.

Sebab sudah pasti mereka juga sudah lupa akan bentuk lagu yang masih mentah, seperti saat kita gonjrang-ganjreng latihan sebulan (atau lebih) yang lalu. Apalagi Iwan Fals, hari ini dia nyanyi seperti itu besok bisa jadi sudah lain lagi atau sudah jadi lagu yang baru lagi hehehe.. (berubah terus….sak mate’k ‘e.., demikian celoteh kata Sawung Jabo).

Jadi saya bertugas selaku arranger untuk membatasi segalanya, dan itu wewenang serta hak saya yang semua pihak dengan patuh mentaatinya.

Demikian juga dengan ‘fill in’ lead guitar, bahkan saya menentukan running note yang harus dilakukan, dan punya hak untuk membatasi wilayah-wilayah yang tak boleh dilanggar. Semua itu berjalan dengan sebuah kesepakatan yang sudah disetujui bersama secara demokratis.

Bahkan saya juga bisa minta pendapat WS Rendra untuk merubah sebahagian kata-kata dalam tulisan sajaknya, agar lebih kompetibel masuk dalam ruang-ruang musik dan lagu.

Tapi proses itu bukan tanpa konsekwensi, karena memang akhirnya banyak pihak yang tidak merasa puas menyalurkan keinginannya. Jelas, karena memang dibatasi dengan aturan-aturan Music Arranger.

Salah satu yang merasa tak puas adalah mas Djody, dia merasa terkekang dengan notasi yang saya buat, “itu bukan saya yang sesungguhnya” (*katanya*), yah mungkin juga sih. Anda bisa mendengarkan rekaman-rekaman beliau setelah itu, nah itulah mungkin yang beliau maksudkan, tentang keinginan serta karakternya. Dan memang saya harus menghormati karakter tiap-tiap individu. Bukan masalah selera, suka atau tidak.

Lalu, disepakatilah untuk rekaman berikutnya tidak ada lagi arranger seperti saya dulu menanganinya. Semua boleh jadi arranger, supaya semua puas… dan juga atas nama demokrasi ‘baru’ yang coba untuk kita jalani.

Begitulah..jadinya… (anda yang berhak menilai , bukan saya).


Teks asli artikel ini diposting pada 27 Maret 2008, oleh Yockie Suryo Prayogo
Diambil dari: http://jsops.multiply.com/reviews/item/3


Dari kiri ke kanan: Yockie Suryo Prayogo, WS Rendra (alm), Setiawan Djody, Iwan Fals dan Sawung Jabo - Pada konser Kantata Takwa 'Kesaksian' tahun 2003
---------------------------------------------------------------------------------------------------

Lirik lagu 'Kesaksian'

Kesaksian
(Kantata Takwa)

Aku mendengar suara... Jerit makhluk terluka...
Luka... luka... hidupnya... Luka...
Orang memanah rembulan... Burung sirna sarangnya...
Sirna... sirna... hidup redup... Alam semesta... luka...

Banyak orang hilang nafkahnya... Aku bernyanyi menjadi saksi...
Banyak orang dirampas haknya... Aku bernyanyi menjadi saksi...

Mereka dihinakan... Tanpa daya...
Ya tanpa daya... Terbiasa hidup sangsi...

Orang orang harus dibangunkan... Aku bernyanyi menjadi saksi...
Kenyataan harus dikabarkan... Aku bernyanyi menjadi saksi...

Lagu ini jeritan jiwa... Hidup bersama harus dijaga...
Lagu ini harapan sukma... Hidup yang layak harus dibela...

 ---------------------------------------------------------------------------------------------------

Catatan redaksi:
Setelah album Kantata Takwa yang posisi vocal didominasi Iwan Fals, selanjutnya rilis album kedua berjudul Kantata Samsara dimana porsi vocal Iwan Fals berkurang. Lalu muncul album ketiga yaitu Kantata Revolvere, disini Iwan Fals tidak bergabung. Dan kini (2011) dibentuklah Kantata Barock, kali ini Iwan Fals bergabung namun Yockie Suryo Prayogo tidak ikut dan WS Rendra telah meninggal dunia pada 6 Agustus 2009.

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Artikel dibawah ini diambil dari "Pikiran Rakyat"


KANTATA TAKWA

AKHIR dekade 1980-an lahir sebuah kelompok musik bernama Kantata Takwa. Grup ini merupakan kumpulan tokoh-tokoh yang memiliki kharisma di bidangnya masing-masing. Mereka adalah Iwan Fals dan Sawung Jabo, pengarang lagu dan penyanyi berbobot dengan jutaan penggemar; Setiawan Djody, pengusaha sukses sekaligus musisi ternama; WS Rendra, penyair dan dramawan yang berwibawa; Jockie Suryoprayogo, arranger dan pemain keyboard senior; Donny Fatah, pemain bas musik rock yang ulung; dan Innisisri, seorang pemain drum dan perkusi yang kreatif.

Tahun 1990, mereka mengelurkan album perdana bertitel Kantata Takwa. Dari album yang juga menghadirkan permainan gitar Eet Sjahranie dan Raidy Noor, gebukan dram Budhy Haryono serta tiupan saksofon Embong Rahardjo ini, melejit nomor Kesaksian yang sangat ekspresif

Meskipun merupakan grup musik, Kantata mempunyai kekhasan dibanding grup-grup lain. Kantata lebih tepat disebut sebagai sebuah forum komunikasi, diskusi, dan pengejawantahan kreativitas dari sensitivitas sosio-estetik para personilnya. Visi yang kuat akan kondisi sosial budaya menjadikan mereka sebagai wujud representasi baru atas perjalanan panjang serta dinamika kehidupan masyarakat kita.

Bagi Kantata musik adalah sarana untuk mengomunikasikan lirik hasil perjalanan tersebut. Oleh karena itu, Kantata tidak mengikrarkan diri sebagai wakil dari jenis musik tertentu. Hal terpenting adalah meramu musik mana yang paling pas untuk mengiringi lirik masing-masing lagu mereka. Melodi lagu-lagu mereka tidak berniat membuai orang hingga lupa akan maknanya, tetapi cenderung lugas hingga pesan yang dikandung dalam lirik menjadi transparan.

Maka ketika kita mengapresiasi nyanyian Kantata, yang terbentang adalah potret-potret kehidupan, mulai dari yang religius hingga yang tragis. Simak, misalnya, lagu Kesaksian yang menggambarkan berbagai tregedi yang harus dikabarkan atau Orang-orang Kalah yang menggambarkan daya hidup "wong cilik". Sementara itu, lagu Kantata Takwa sendiri merefleksikan kepasrahan manusia di hadapan Tuhan.

Sukses dengan album perdana yang terjual ratusan ribu keping, Kantata lantas membuat gebrakan di dunia pertunjukan. Malam itu, 23 Januari 1990 di Stadion Utama Senayan Jakarta berkumpul ratusan ribu penikmat musik untuk menikmati konser akbar Kantata. Konser tersebut tercatat sebagai salah satu konser terbesar dalam catatan sejarah musik Indonesia, baik dari segi kuantitas penonton maupun dalam kualitas penyelenggaraan.

Beberapa bulan kemudian, Kantata melakukan konser tur yang tak kalah akbarnya ke berbagai daerah, antara lain konser di Surabaya pada 11-12 Agustus 1990 dan konser di Solo pada 11-12 September 1990.

Setelah sukses dengan album perdana dan serangkaian turnya, Kantata Takwa tak terdengar lagi kabarnya. Para personilnya lebih terfokus pada aktivitas masing-masing. Iwan Fals menggarap album solonya, yakni Cikal, Belum Ada Judul, Hijau, dan Orang Gila. Setiawan Djody juga sibuk menggarap album solo perdananya, Dialog. Sedang-kan Sawung Jabo bersama kelompok Sirkus Barock menggarap album Fatamorgana.

Sebenarnya, beberapa dari personil Kantata tetap berkolaborasi, hanya saja mereka mengibarkan bendera yang berbeda. Iwan Fals, Sawung Jabo, Innisisri dan beberapa musisi lain sempat tergabung dalam kelompok Swami dan Dalbo. Pada 1994, Iwan Fals dan Sabung Jabo bahkan mengelurkan album duet berjudul Anak Wayang.

Indikasi kemunculan kembali Kantata baru terlihat pada awal 1995. Saat itu mereka manggung untuk kalangan terbatas di Hardrock Cafe Jakarta. Tak lama kemu-dian, tanggal 15 Oktober 1995 Kantata kembali menggelar konser akbar di lapangan terbuka di Surakarta. Hasil rekaman pertunjukan yang dijejali sekitar 300.000 penonton itu ditayangkan oleh TPI. Kini, lagu-lagu dari konser tersebut secara bergantian biasanya hadir pula pada acara Panggung Mania di TPI setiap Minggu malam.

Kantata nampaknya memang bertekad untuk kembali menghangatkan jagad musik Indonesia. Terbukti, menjelang akhir 1996 mereka berkumpul di Camping Lawu Resort, Tawangmangu, Solo, Jawa Tengah. Di bumi perkemahan seluas 14 hektar milik setiawan Djody ini Kantata menggarap album kedua.

Mereka yang berkumpul tidak banyak berubah dari album pertama. Mereka adalah Iwan Fals (gitar/harmonika/vokal), S. Djody (gitar/vokal), Sawung Jabo (gitar/timpani/vokal), WS Rendra (lirik), Jockie S. (music director /keyboard/vokal), Innisisri (drum/perkusi), dan Donny Fatah (bas). Sedangkan yang terbilang sebagai pendatang baru adalah Totok Tewel (gitar) dan Doddy Katamsi (vokal).

Maka pada awal 1997 keluarlah album mereka, Kantata Samsara. Seperti kata Setiawan Djody, lahirnya Kantata Samsara berangkat dari keinginan untuk menghidupkan kembali Kantata Takwa. Oleh karena itu, kata Samsara diambil yang dalam bahasa Sanskerta berarti "lahir kembali".

Secara umum, Kantata Takwa dan Kantata Samsara memiliki kepekaan, daya kritis, dan totalitas daya hidup yang sama. Meskipun demikian, di antara keduanya memiliki tema yang agak berbeda. Kantata Samsara lebih berbicara tentang obsesi dan revitalisasi menyongsong tantangan abad XXI. Dalam konteks ini, Kantata berpihak pada keadilan dan kepastian hukum dengan berpegang pada solidaritas dan kebersama-an. Simak, penggalan lirik lagu Samsara berikut ini: "…Keadilan, kehidupan, ditegakkan / Kebersamaan, kemakmuran, dilautkan / Apakah masih ada angin cinta kebersamaan / gerhana meratap jiwa membara / kesatuan berbangsa, digemakan / Samsara…"

Hal yang juga agak berbeda bahwa lagu-lagu pada album Kantata Samsara terasa lebih kontemplatif serta banyak menggunakan bahasa simbol yang liris. Permenungan yang mendalam dan bahkan menyayat, begitu terasa pada lagu Anak Zaman, Songsonglah, dan Lagu Buat Penyaksi. Sementara itu, ramuan bahasa simbol dapat dinikmati pada lagu Nyanyian Preman, Asmaragama, dan Langgam Lawu. Kantata juga membuat lagu berlirik Inggris, For Green and Peace, sebuah lagu yang merefleksikan harapan akan kesejahteraan dan kedamaian.

Memasuki awal 1998, Kantata kembali hadir dengan mengeluarkan album ketiga, Kantata Takwa Samsara. Sebenarnya album ini merupakan kompilasi dari dua album sebelumnya. Walaupun demikian ada sedikit perbedaan. Untuk lagu Gelisah yang diambil dari album pertama mendapat penambahan aransemen pada intronya dan untuk lagu Kesaksian yang juga diambil dari album pertama ditambah dengan narasi WS Rendra.

Tahun 1999, tanpa didukung Iwan Fals, Kantata kembali melahirkan album berjudul Kantata Revolvere yang diproduksi Kantata Bangsa Foundation.

Mereka kembali bergabung, termasuk Iwan Fals yang beberapa tahun sebelumnya menyatakan keluar, menggelar konser di Parkir Timur Senayan, 30 Agustus 2003. Konser yang diberi title Konser Kantata Takwa: Kesaksian 2003 ini menghadirkan personil asli yang terbentuk di awal Kantata. Secara jumlah penonton yang mencapai 150-an ribu, konser ini bisa dibilang sukses.

Pikiran Rakyat

Mata Dewa


Diberitakan saat itu Iwan Fals dan Setiawan Djody pergi ke Bali khusus untuk mencari inspirasi membuat lagu. Dalam proyek album Mata Dewa ini, Djody berperan banyak. Setibanya di Bali, mereka berdua duduk menikmati matahari terbenam di pantai Kuta Bali.

Dari situlah timbul ide mereka untuk menulis lirik lagu Mata Dewa. Pada rekaman lagu ini, Setiawan Djody juga ikut menyumbangkan suaranya pada bagian reff. Sebuah lagu yang dikerjakan dengan serius dan hasilnya juga bagus.




Mata Dewa
Iwan Fals / Djody ( Album Mata Dewa 1989 )


Diatas pasir senja pantai Kuta
Saat kau rebah di bahu kiriku
Helai rambutmu halangi khusukku
Nikmati ramah mentari yang pulang

Seperti mata dewa
Seperti mata dewa
Seperti mata dewa
Seperti mata dewa

Aku berdiri tinggalkan dirimu
Waktu sinarnya jatuh di jiwaku
Gemuruh ombak sadarkan sombongku
Ajaklah aku wahai sang perkasa

Seperti mata dewa
Seperti mata dewa
Seperti mata dewa
Seperti mata dewa

Yang menangis tinggalkan diriku
Yang menangis lupakanlah aku
Yang menangis tinggalkan diriku
Yang menangis lupakanlah aku

Senja di hati

Lidah gelombang jilati batinku
Belaian karang sampai kejantungku
Jingga matahari ajak aku pergi
Kasihku tulus setulus indahmu

Seperti mata dewa
Seperti mata dewa
Seperti mata dewa
Seperti mata dewa

Yang menangis tinggalkan diriku
Yang menangis lupakanlah aku
Yang menangis tinggalkan diriku
Yang menangis lupakanlah aku

Senja di hati

Seperti mata dewa
Seperti mata dewa
Senja di hati
Seperti mata dewa
Senja di hati
Seperti mata dewa
Senja di hati

Yang Terlupakan

Bisa dikatakan lagu ini adalah salah satu masterpiece Iwan Fals. Ini adalah lagu bertema cinta gaya Iwan yang dinyanyikan dengan alunan nada yang nikmat didengar. Lagu ini versi awalnya ada di album Sarjana Muda tahun 1981. Versi awal lagu ini masih memiliki taste kuno dan ada backing vocal suara seorang perempuan. 
Kemudian pada tahun 1989, lagu ini di re-arransemen dengan sentuhan rock ballad dari tangan dingin Ian Antono. Hasilnya lagu ini menjadi kental dengan nuansa slow rock yang tak lekang dimakan waktu. Hingga sekarang bila kita dengarkan lagu ini tidak akan berpikir kalau musiknya dikerjakan tahun 1989, musiknya terasa modern. Versi baru lagu ini ada pada album Mata Dewa, album yang membuka aura Iwan Fals untuk beralih gaya bernyanyi cempreng menjadi rocker.




Yang Terlupakan
Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981 & Album Mata Dewa 1989 )


Denting piano kala jemari menari
Nada merambat pelan dikesunyian malam saat datang rintik hujan
Bersama sebuah bayang yang pernah terlupakan

Hati kecil berbisik untuk kembali padaNYA
Seribu kata menggoda seribu sesal didepan mata seperti menjelma
Waktu aku tertawa kala memberiMU dosa

Oh maafkanlah
Oh maafkanlah

Rasa sesal didasar hati diam tak mau pergi
Haruskah aku lari dari kenyataan ini
Pernah ku mencoba tuk sembunyi
Namun senyumMU tetap mengikuti

Perempuan Malam

Kisah tentang pelacur masih asik dijadikan lagu oleh Iwan Fals. Saya tidak paham kenapa dia sering membuat lagu bertema ini. Kali ini lagu tentang kehidupan pelacur kelas teri. Yang paling saya suka dari lagu ini adalah aransemen musiknya yang keren. Petikan gitar listrik Ian Antono begitu membuat kental nuansa rock dalam lagu ini. Karakter vocal Iwan Fals juga semakin berat dan lepas.




Perempuan Malam
Iwan Fals ( Album Mata Dewa 1989 )


Perempuan malam mandi di kali
Buih buih busa sampo ketengan
Di atas kepala lewat kereta
Yang berjalan lamban nakal menggoda

Disambut tawa renyah memecah langit
Dengus kereta semakin hening

Semua noda coba dibersihkan
Namun masih saja terlihat kotor
Karena kereta kirimkan debu
Yang datang tak mampu ia tepiskan

Perempuan malam kenakan handuknya
Setelah usap seluruh tubuhnya

Hangatkan tubuh di cerah pagi
Pada matahari
Keringkan hati yang penuh tangis
Walau hanya sesaat

Segelas kopi sebatang rokok
Segurat catatan yang tersimpan
Perempuan malam menunggu malam
Untuk panjangnya malam

Perempuan malam diikat tali
Di hidup di mimpi di hatinya
Aku hanya lihat dari jembatan
Tanpa mampu untuk melepaskan

Perempuan malam dipinggir jerami
Nyanyikan doa nyalakan api

Perempuan malam dipinggir jerami
Nyanyikan doa nyalakan api

Air Mata Api

Ini lagu yang berkisah tentang seorang lelaki yang kerap mengalami diskriminasi dalam kehidupannya. Dia sering menjadi bahan olok-olokan dan cibiran orang. Dia selalu diremehkan dalam setiap kesempatan dan tidak pernah diberi peluang untuk maju. Hingga suatu saat dia tidak tahan menerima perlakuan itu. Dia marah dan membalas orang-orang yang kerap menghinanya...
Lagu ini menjadi lagu rock paling keras dari Iwan Fals. Keras dalam musik dan liriknya. Nada-nada ekstra tinggi yang saya bisa pastikan Iwan Fals sekarang tidak mampu menyanyikan bagian reff lagu ini.




Air Mata Api
Iwan Fals ( Album Mata Dewa 1989 )


Aku adalah lelaki tengah malam
Ayahku harimau ibuku ular
Aku dijuluki orang sisa sisa
Sebab kerap merintih kerap menjerit

Temanku gitar temanku lagu
Nyanyikan tangis marah dan cinta
Temanku niat temanku semangat
Yang kian hari kian berkarat semakin berkarat

Aku berjalan orang cibirkan mulut
Aku bicara mereka tutup hidung
Aku tersinggung peduli nilai nilai
Aku datangi dengan segunung api

Mereka lari ke ketiak ibunya
Ku tak peduli marahku menjadi
Mereka lari ke meja ayahnya
Aku tak mampu tenagaku terkuras

Lelaki tengah malam terkulai di tepi malam
Lelaki tengah malam terkulai di tepi malam
Orang sisa sisa menangis
Orang sisa sisa menangis

Air matanya
Air matanya
Air matanya
Api

Aku berjalan orang cibirkan mulut
Aku bicara mereka tutup hidung
Aku tersinggung peduli nilai nilai
Aku datangi dengan segunung api

Mereka lari ke ketiak ibunya
Ku tak peduli marahku menjadi
Mereka lari ke meja ayahnya
Aku tak mampu tenagaku habis terkuras

Lelaki tengah malam terkulai di tepi malam
Lelaki tengah malam terkulai di tepi malam
Orang sisa sisa menangis
Orang sisa sisa menangis

Air matanya
Air matanya
Air matanya
Api

Air matanya
Air matanya
Air matanya
Api

Pinggiran Kota Besar

Pinggiran Kota Besar dan segudang permasalahannya digambarkan Iwan Fals dalam lagu ini. Sungai-sungai yang kotor dan tercemar limbah menjadi pemandangan sehari-hari disana. Padahal sungai sungai itu tempat bermain, mencuci dan sebagainya.

Inilah suasana di pinggiran kota besar. Seakan tidak pernah mendapatkan jalan keluar, hanya berdiam menikmati kesengsaraan sambil menunggu mati.




Pinggiran Kota Besar
Iwan Fals ( Album Mata Dewa 1989 )


Pinggiran kota besar
Nafasmu makin bingar
Kudengar dari sini
Bagai nyanyiannya oh

Cerobong asap pabrik
Berlomba ludahi langit
Barisan mobil besar
Gelisah angkut barang

Ada kabar engkau tuli

Pinggiran kota besar
Kulihat tidur mendengkur
Diranjang banyak orang
Peduli kau bermimpi

Selagi cukup nyenyak
Asiknya buang kotoran
Lukai hari kami
Cemari hati ini

Ada kabar engkau buta

Sungai kotor bau dan beracun
Penuh limbah kimia
Kita mandi mencuci disana
Lihatlah lihatlah

Ikan ikan pergi atau mati
Tak kulihat yang pasti
Kau yang tidur bangunlah segera
Lihatlah lihatlah

Telanjang anak kecil
Berenang disungai kotor
Tertawa riang bercanda
Sambil menggaruk koreng

Pinggiran kota besar
Merasa tidur terganggu
Beranjak dari ranjang
Tutup pintu jendela
Nutup pintu jendela

Sungai kotor bau dan beracun
Penuh limbah kimia
Kita mandi mencuci disana
Lihatlah lihatlah

Ikan ikan pergi atau mati
Tak kulihat yang pasti
Kau yang tidur bangunlah segera
Lihatlah lihatlah

Hitam kaliku
Hitam legam hatiku
Legam hariku
Legam hitam kaliku

Nona

Sepertinya menjadi sebuah kewajiban dalam sebuah album mesti menyelipkan lagu bertema cinta. Lagu Nona ini bagus liriknya. Iwan Fals bertutur tanpa banyak kosa kata yang rumit. Lagu-lagu cinta seperti ini yang saya suka apalagi irama musiknya juga pantas tersemat bergandengan dengan lirik lugasnya.



Nona
Iwan Fals ( Album Mata Dewa 1989 )


Sudah cukup jauh
Perjalanan ini
Lewati duka lewati tawa
Lewati segala persoalan

Kucoba berkaca
Pada jejak yang ada
Ternyata aku sudah tertinggal
Bahkan jauh tertinggal

Bodohnya diriku
Tak percaya padamu
Lalu sempat aku berfikir
Untuk tinggalkan kamu

Nona maafkan aku
Nona peluklah aku
Nona begitu perkasanya dirimu

Yakiniku

Nona marahlah padaku
Nona
Nonaku

Aku tak peduli
Apa kata mereka
Hari ini engkau disini
Esok tetap disini

Nona maafkan aku
Nona peluklah aku
Nona begitu perkasanya dirimu

Yakiniku

Nona marahlah padaku
Nona
Nonaku

Nona maafkan aku

Nona nona nona nonaku
Nona nona nona nonaku

Senin, 01 April 2013

PHK

PHK seakan menjadi singkatan yang mengerikan bagi para pekerja. PHK adalah Pemutusan Hubungan Kerja, tentu dilakukan dengan berbagai alasan. Menjadimengerikan karena disini susah mendapatkan pekerjaan, sehingga apabila di PHK, maka hilanglah sudah mata pencaharian.

Maka dari itu sekarang banyak orang yang enggan bekerja ikut perusahaan atau orang lain. Mereka lebih memilih menjadi wirausahawan sendiri. Menjadi bos untuk disi sendiri tanpa kenal kata PHK.

Lagu ini versi awalnya ada dalam album Wakil Rakuyat tahun 1987. Kemudian diaransemen ulang dan masuk kedalam album Mata Dewa tahun 1989. Aransemen ulang lagu ini menghasilkan karya yang gahar penuh warna rock.




P.H.K.
Iwan Fals ( Album Wakil Rakyat 1987 & Mata Dewa 1989 )


Lelaki renta setengah baya
Geram di trotoar jalan
Saat panas tikam kepala
Seorang buruh disingkirkan

Bising mesin menyulut resah
Masih bisa engkau pendam
Canda anak istri dirumah
Bangkitkan kau untuk bertahan

Oh yaya Oh yaya Oh Yaa
Oh yaya Oh yaya Oh Yaa

Pesangon yang engkau kantongi
Tak cukup redakan gundah
Tajam pisau kepalan tangan
Antar kau ke pintu penjara

Oh yaya Oh yaya Oh Yaa
Oh yaya Oh yaya Oh Yaa

Sedanau nanah dari matamu
Tak mampu jatuhkan hati mereka
Serimba luka didalam jiwa
Juga tak berarti

Hitam benak kini mulai akrab
Hitam benar isi hari harimu

Kau tafakur dibalik jeruji pengap
Kau menjerit coba melawan

Minggu, 17 Maret 2013

Timur Tengah II

Ini adalah lanjutan dari lagu sebelumnya yang berjudul Timur Tengah II. Salah satu potret kegelisahan Iwan Fals terhadap konflik yang terjadi di Timur Tengah pada masa itu. Perang berkepanjangan selalu menimbulkan banyak korban. Iwan Fals merangkai kegelisahannya itu kedalam sebuah lagu berjudul Timur Tengah II. 
Lagu ini versi awalnya ada dalam album Aku Sayang Kamu tahun 1986. Kemudian di aransemen ulang dengan gaya musik rock oleh Ian Antono dan dimasukkan kedalam album Mata Dewa tahun 1989. Pada album Mata Dewa, lagu ini mengalami sedikit revisi judul dengan menambahkan judul Bakar. Dalam versi baru itu suara Iwan Fals menjadi lebih ngerock dipadu dengan musik yang bernuansa legam.



Timur Tengah II / Bakar
Iwan Fals ( Album Aku Sayang Kamu 1986 & Mata Dewa 1989 )


Tuhan tolong dengarkan
Nyanyian pinggir jalan
Malam dibawah bulan
Dalam waktu yang rawan

Marah dibawah tanah
Dilangit ada merah
Menuju satu arah
Bakar bakar

Disana ada bohong
Disana ada mayat
Disana ada suara
Bom bom

Raut muka resah
Orang orang susah
Ada banyak mata
Buta

Resah luka kaki
Semakin menjadi
Ada banyak kuping (telinga)
Tuli

Malam hampir pagi
Debu jalan datang lagi
Malam hampir pagi
Bising mesin bunyi lagi

Malam hampir pagi
Kelicikan mulai lagi
Malam hampir pagi
Teriakku hilang lagi

Selasa, 05 Februari 2013

Berkacalah Jakarta

Sebuah harapan dan nasehat untuk kota Jakarta tempat banyak orang mencari nafkah. Iwan Fals cukup banyak membuat lagu tentang kota Jakarta dengan segala macam persoalannya. Pada lagu ini dia menggambarkan kota Jakarta seperti orang yang terus berlari mengejar impiannya.
Lagu ini versi awalnya ada pada album Sugali 1984, dinyanyikan Iwan Fals dengan karakter vocal yang cempreng dan irama musik nuansa 80-an. Pada album Mata Dewa 1989 lagu ini diaransemen ulang dengan gaya rock dan vocal Iwan Fals yang berat. Hasilnya lagu versi baru ini menjadi lebih bernyawa dan berkarakter kuat.



Berkacalah Jakarta
Iwan Fals ( Album Sugali 1984 & Album Mata Dewa 1989 )


Langkahmu cepat seperti terburu
Berlomba dengan waktu
Apa yang kau cari belumkah kau dapati
Diangkuh gedung gedung tinggi

Riuh pesta pora sahabat sejati
Yang hampir selalu saja ada

Isyaratkan enyahlah pribadi

Lari kota Jakarta lupa kaki yang luka
Mengejek langkah kura kura
Ingin sesuatu tak ingat bebanmu
Atau itu ulahmu kota

Ramaikan mimpi indah penghuni

Jangan kau paksakan untuk berlari
Angkuhmu tak peduli
Luka di kaki

Jangan kau paksakan untuk tetap terus berlari
Bila luka di kaki belum terobati
Berkacalah Jakarta

Lari kota Jakarta lupa kaki yang luka
Mengejek langkah kura kura
Ingin sesuatu tak ingat bebanmu
Atau itu ulahmu kota

Ramaikan mimpi indah penghuni

Jangan kau paksakan untuk berlari
Angkuhmu tak peduli
Luka di kaki

Jangan kau paksakan untuk tetap terus berlari
Bila luka di kaki belum terobati
Berkacalah Jakarta

Minggu, 03 Februari 2013

Puing (II)

Kembali Iwan Fals menulis lagu tentang dampak perang. Kali ini dia mengambil sisi dari sudut pandang pengungsi perang. Perang memang mengerikan.

Lagu ini versi awalnya ada di album Sumbang tahun 1983. Vocal Iwan masih cempreng dan lucu. Kemudian lagu ini di aransemen ulang dalam proyek album Mata Dewa tahun 1989 dengan karakter vocal Iwan yang mulai berat dan lebih bergaya rock. Musik dalam lagu yang versi baru ini dikerjakan oleh Ian Antono. Makin keren deh jadinya...



Puing II
Iwan Fals ( Album Sumbang 1983 & Mata Dewa 1989 )


Perang perang lagi
Semakin menjadi
Berita ini hari
Berita jerit pengungsi

Lidah anjing kerempeng
Berdecak keras beringas
Melihat tulang belulang
Serdadu boneka yang malang

Tuan tolonglah tuan
Perang dihentikan
Lihatlah ditanah yang basah
Air mata bercampur darah

Bosankah telinga tuan
Mendengar teriak dendam
Jemukah hidung tuan
Mencium amis jantung korban

Jejak kaki para pengungsi
Bercengkrama dengan derita
Jejak kaki para pengungsi
Bercerita pada penguasa
( Bercerita pada penguasa )

Tentang ternaknya yang mati
Tentang temannya yang mati
Tentang adiknya yang mati
Tentang abangnya yang mati
Tentang ayahnya yang mati
Tentang anaknya yang mati
Tentang neneknya yang mati
Tentang pacarnya yang mati
( Tentang ibunya yang mati )
Tentang istrinya yang mati

Tentang harapannya yang mati

Perang perang lagi
Mungkinkah berhenti
Bila setiap negara
Berlomba dekap senjata

Dengan nafsu yang makin menggila
Nuklir pun tercipta
( nuklir bagai dewa )
Tampaknya sang jenderal bangga
Dimimbar dia berkata

Untuk perdamaian (bohong)
Demi perdamaian (bohong)
Guna perdamaian (bohong)
Dalih perdamaian (bohong)

Mana mungkin
Bisa terwujudkan
Semua hanya alasan
Semua hanya bohong besar
Postingan Lama Beranda

Entri Terfals

Like

 

Kalender

Total Pengunjung

follow Me

Followers

 

Footer

Oi Pagar Alam