Tampilkan postingan dengan label Sugali (1984). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sugali (1984). Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Februari 2013

Sugali

Ini mengingatkan kita pada peristiwa yang menjadi buah bibir di tahun 80-an. Pada masa itu pemerintah melakukan tindakan tegas kepada preman-preman alias orang-orang yang berbuat kriminal di jalanan. Tindakan tegas itu berupa pemburuan dan kerap kali preman-preman itu ditembak mati tanpa sebab yang jelas. Alhasil angka kriminalitas pada masa itu menurun karena banyak pelaku kriminal yang takut melakukan aksinya. 

Sugali adalah nama rekaan yang dipilih Iwan Fals untuk menggambarkan sosok preman yang diburu polisi. Sugali berasal dari kata Gali, yaitu singkatan dari Gerombolan Anak Liar. Pada masa itu istilah ini begitu populer digunakan sebagai sebutan para preman. Sedangkan awalan 'su' ditambahkan Iwan Fals sebagai pelengkap agar menjadi satu kesatuan sebuah nama.




Sugali
Iwan Fals ( Album Sugali 1984 )


Sua sua sua suara berita
Tertulis dalam koran
Tentang seorang lelaki yang sering keluar masuk bui
Jadi buronan polisi

Dar der dor suara senapan
Sugali anggap petasan
Tiada rasa ketakutan punya ilmu kebal senapan
Semakin lupa daratan

Lihat sugali menari
Di lokasi WTS kelas teri
Asik lembur sampai pagi
Usai garong hambur uang peduli setan

Di di du Di du da di du
Di di du di du du
Di di du Di du da di du
Di du da di du di da di du di da du

Ramai gunjing tentang dirimu
Yang tak juga hinggap rasa jemu
Suram hari depanmu

Rasa was was mata beringas
Menunggu datang peluru yang panas
Di waktu hari naas

Oh bisik jangkrik ditengah malam
Tenggelam dalam suara letusan
Kata berita di mana mana
Tentang Sugali tak tenang lagi dan lari sembunyi

Tar ter tor suara senapan
Sugali anggap petasan
Tiada rasa ketakutan punya ilmu kebal senapan
Sugali makin keranjingan

Lihat sugali menari
Di lokasi WTS kelas teri
Asik joget sampai lecet
Genit gelitik cewek binal paling busyet

Di di du Di du da di du
Di di du di du du
Di di du Di du da di du
Di du da di du di da di du di da du

Siang Seberang Istana

Inilah lagu yang sering 'menampar' wajah penguasa negeri ini. Iwan Fals dalam sebuah kesempatan mengatakan bahwa lagu ini ditulis dia berdasarkan kenyataan. Saat itu dia sedang berada di seberang istana negara. Dia melihat rombongan mobil pejabat memasuki istana. Namun kontras dengan kondisi di depannya yaitu ada seorang anak penyemir sepatu yang tertidur. Dan seisi istana tidak memperdulikan kesengsaraan rakyatnya yang tampak didepan mata mereka.
Inilah potret 'kebiadaban' penguasa negeri ini. Kesejahteraan rakyatnya yang sudah dalam taraf menyedihkan seringkali tidak direspon dengan baik, bahkan diabaikan meskipun itu terlihat jelas didepan mata. Sementara para pengelola bangsa ini sibuk menyenangkan dirinya sendiri dengan berlaku mewah seakan-akan dunia hanya miliknya sendiri melupakan tanggung jawab kepada rakyat yang dibebankan kepada dia....





Siang Seberang Istana
Karya : Iwan Fals ( Album Sugali 1984 )


Seorang anak kecil bertubuh dekil
Tertidur berbantal sebelah lengan
Berselimut debu jalanan

Rindang pohon jalan menunggu rela
Kawan setia sehabis bekerja
Siang di seberang sebuah istana
Siang di seberang istana sang raja

Kotak semir mungil dan sama dekil
Benteng rapuh dari lapar memanggil
Gardu dan mata para penjaga
Saksi nyata yang sudah terbiasa

Tamu negara tampak terpesona
Mengelus dada gelengkan kepala
Saksikan perbedaan yang ada

Sombong melangkah istana yang megah
Seakan meludah diatas tubuh yang resah
Ribuan jerit didepan hidungmu (matamu)
Namun yang ku tahu tak terasa mengganggu

Gema azan ashar sentuh telinga
Buyarkan mimpi sikecil siang tadi
Dia berdiri malas melangkahkan kaki
Diraihnya mimpi digenggam tak dilepaskan lagi

Rindu Tebal


Mungkin ini kisah nyata yang dialami Iwan Fals, saya tidak tahu. Yang jelas lagu berirama country ini asik didengarkan sambil bergoyang. Berkisah tentang seorang anak yang diusir oleh orang tuanya karena kedapatan mencuri kambing milik tetangga. Bapaknya malu sebab kelakuan anaknya itu mencoreng nama baik keluarga, akhirnya si anak diusir dari rumah.
Sang anak menyesal dan dalam sebuah perjalanan dengan kereta api dia merasa rindu dengan kampung halamannya sembari berharap keluarganya mau memberi maaf....





Rindu Tebal
Karya : Iwan Fals ( Album Sugali 1984 )


Sewindu sudah lamanya waktu
Tinggalkan tanah kelahiranku
Rinduku tebal kasih yang kekal
Detik ke detik bertambah tebal

Pagi yang kutelusuri
Riuh tak bernyanyi
Malam yang aku jalani
Sepi tak berarti

Saat kereta mulai berjalan
Rinduku tebal tak tertahankan

Terlintas jelas dalam benakku
Makian bapak usir ku pergi
Hanya menangis yang emak bisa
Dengan terpaksa kutinggalkan desa

Seekor kambing kucuri
Milik tetangga tuk makan sekeluarga
Bapak tak mau mengerti
Hilang satu anak tuk harga diri

Aku pergi meninggalkan coreng hitam dimuka bapak
Yang membuat malu keluargaku
Kuingin kembali mungkinkah mereka mau terima
Rinduku

Maafkan semua kesalahanku
Kursi kereta yang pasti tahu

Nak

Inilah lirik lagu yang paling sering dinyanyikan oleh penggemar Iwan Fals yang memiliki anak lelaki. Sebuah lagu penuh harapan orang tua kepada anaknya. Lagu ini cukup sederhana liriknya namun begitu dalam maknanya. Begitu juga musiknya tidak terlalu rumit tetapi cukup menyayat pendengar.

Orang tua mana yang tidak berharap besar kepada anaknya. Setiap orang tua tentu menginginkan yang terbaik buat sang anak. Orang tua mendidik anak agar bisa mandiri dan tidak manja. Orang tua mengingatkan anaknya bahwa perjalanan hidupnya masihlah panjang dan penuh rintangan. Itulah pesan yang termuat dalam lagu keren ini....



Nak
Iwan Fals ( Album Sugali 1984 )

Jauh jalan yang harus kau tempuh
Mungkin samar bahkan mungkin gelap
Tajam kerikil setiap saat menunggu
Engkau lewat dengan kaki tak bersepatu

Duduk sini nak dekat pada bapak
Jangan kau ganggu ibumu
Turunlah lekas dari pangkuannya
Engkau lelaki kelak sendiri

Berkacalah Jakarta

Sebuah harapan dan nasehat untuk kota Jakarta tempat banyak orang mencari nafkah. Iwan Fals cukup banyak membuat lagu tentang kota Jakarta dengan segala macam persoalannya. Pada lagu ini dia menggambarkan kota Jakarta seperti orang yang terus berlari mengejar impiannya.
Lagu ini versi awalnya ada pada album Sugali 1984, dinyanyikan Iwan Fals dengan karakter vocal yang cempreng dan irama musik nuansa 80-an. Pada album Mata Dewa 1989 lagu ini diaransemen ulang dengan gaya rock dan vocal Iwan Fals yang berat. Hasilnya lagu versi baru ini menjadi lebih bernyawa dan berkarakter kuat.



Berkacalah Jakarta
Iwan Fals ( Album Sugali 1984 & Album Mata Dewa 1989 )


Langkahmu cepat seperti terburu
Berlomba dengan waktu
Apa yang kau cari belumkah kau dapati
Diangkuh gedung gedung tinggi

Riuh pesta pora sahabat sejati
Yang hampir selalu saja ada

Isyaratkan enyahlah pribadi

Lari kota Jakarta lupa kaki yang luka
Mengejek langkah kura kura
Ingin sesuatu tak ingat bebanmu
Atau itu ulahmu kota

Ramaikan mimpi indah penghuni

Jangan kau paksakan untuk berlari
Angkuhmu tak peduli
Luka di kaki

Jangan kau paksakan untuk tetap terus berlari
Bila luka di kaki belum terobati
Berkacalah Jakarta

Lari kota Jakarta lupa kaki yang luka
Mengejek langkah kura kura
Ingin sesuatu tak ingat bebanmu
Atau itu ulahmu kota

Ramaikan mimpi indah penghuni

Jangan kau paksakan untuk berlari
Angkuhmu tak peduli
Luka di kaki

Jangan kau paksakan untuk tetap terus berlari
Bila luka di kaki belum terobati
Berkacalah Jakarta

Maaf Cintaku

Beginilah kalau Iwan Fals membuat lagu cinta dengan gaya ceplas ceplosnya. Untuk mengungkapkan rasa cinta, Iwan Fals bahkan mau berbuat sadis. Tetapi itu hanyalah sebuah ungkapan versi Iwan Fals. Pada kenyataannya tidak mungkin dia berani berbuat seperti itu. Kalau sampai berani maka kita sekarang tidak akan mengenal seorang penyanyi bernawa Iwan Fals hehehe.....




Maaf Cintaku
Iwan Fals ( Album Sugali 1984 )


Ingin kuludahi mukamu yang cantik
Agar kau mengerti bahwa kau memang cantik
Ingin kucongkel keluar indah matamu
Agar engkau tahu memang indah matamu

Harus kuakui bahwa aku pengecut
Untuk menciummu juga merabamu
Namun aku tak takut untuk ucapkan
Segudang kata cinta padamu

Mengertilah
Perempuanku

Jalan masih teramat jauh
Mustahil berlabuh
Bila dayung tak terkayuh

Maaf cintaku
Aku menggurui kamu

Mengertilah
Perempuanku

Jalan masih teramat jauh
Mustahil berlabuh
Bila dayung tak terkayuh

Maaf cintaku
Aku nasehati kamu

Maaf cintaku
Aku menggurui kamu

Maaf cintaku
Aku nasehati kamu

Maaf cintaku
Aku menggurui kamu

Azan Subuh Masih Di Telingah

Entah sudah berapa banyak lagu tentang pelacur dibuat Iwan Fals. Mungkin kehidupan lingkungan Iwan Fals dahulu dekat dengan dunia hitam seperti ini. Lagu ini mengisahkan kehidupan pelacur setelah menunaikan pekerjaannya di pagi hari. Dalam liriknya tergambar penyesalan dari perempuan itu diselingi gambaran tentang suasana pagi yang ceria....



Azan Subuh Masih Di Telinga
Iwan Fals ( Album Sugali 1984 )


Ketika fajar menjelang
Terlihat dia melangkah enggan
Seirama dengan dendang subuh
Yang singgah di hati keruh

Sempit jalan berdesak bangunan
Memandang sinis mendakwa bengis
Perempuan satu dan hitamnya waktu

Dihapusnya gincu dengan ujung baju
Dibuangnya dengus birahi sejuta tamu

Hari pagi menyambut kau kembali
Mengusap nadi mengelus hati
Sesal di hatimu kian mengganggu

Kau reguk habis semua doa doa
Dari surau depan rumah yang kau sewa
Tak terasa surya duduk di kepala
Azan subuh masih di telinga

Terdengar renyah tawa gadis sekolah
Menyibak tabir cerita lama
Didepan retaknya cermin yang telah usang
Menari dia seperti dahulu

Terdengar pelan ketuk pintu
Tegur anakmu buyarkan lamunan
Perempuan satu kian terbelenggu

Dihapusnya gincu dengan ujung baju
Dibuangnya dengus birahi sejuta tamu

Serdadu

Lagu-lagu semacam ini sering dinyanyikan Iwan Fals dalam konser-konsernya. Lagu serdadu ini memuat tempo yang cepat dan rancak. Bercerita tentang tentara yang harus selalu menuruti perintah atasannya. Iwan Fals juga mengkritik perilaku serdadu yang kadang bersikap arogan kepada rakyat biasa karena menyandang seragam dan senjata. Iwan Fals juga menyindir perilaku negara yang kerap memangkah jatah prajurit, alias hak mereka di korupsi....



Serdadu
Iwan Fals ( Album Sugali 1984 )


Isi kepala di balik topi baja
Semua serdadu pasti tak jauh berbeda
Tak peduli perwira bintara atau tamtama
Tetap tentara

Kata berita gagah perkasa
Apalagi sedang kokang senjata
Persetan siapa saja musuhnya
Perintah datang karang pun dihantam

Serdadu seperti peluru
Tekan picu melesat tak ragu
Serdadu seperti belati
Tak dirawat tumpul dan berkarat

Umpan bergizi titah bapak menteri
Apakah sudah terbukti ?
Bila saja masih ada buruknya kabar burung
Tentang jatah prajurit yang di kentit

Serdadu seperti peluru
Tekan picu melesat tak ragu
Serdadu seperti belati
Tak dirawat tumpul dan berkarat

Lantang suaramu otot kawat tulang besi
Susu telur kacang hijau ekstra gizi
Runtuh dan tegaknya keadilan negeri ini
Serdadu harus tahu pasti

Serdadu baktimu kami tunggu
Tolong kantongkan tampang serammu
Serdadu rabalah dada kami
Gunakan hati jangan pakai belati

Serdadu jangan mau di suap
Tanah ini jelas meratap
Serdadu hoi jangan lemah syahwat
Nyonya pertiwi tak sudi melihat

Tolong Dengar Tuhan

Saya tidak suka lagu ini sebab Iwan Fals memanggil Tuhan dengan awalan 'Hei'. Kabarnya lagu ini dulu juga sempat dipermasalahkan oleh MUI karena pelecehan itu. Saya tidak tahu kabar selanjutnya. Dan pada sebuah kesempatan, istri Iwan Fals juga pernah mengatakan ketidak sukaannya pada lagu ini karena hal yang sama.
Sayang sekali Iwan Fals membuat kesalahan kecil yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Dan entah kenapa lagu dengan lirik ini bisa lolos masuk dapur rekaman. Lagu ini sebenarnya mengisahkan bencana meletusnya Gunung Galunggung yang berdampak buruk bagi kehidupan disekitarnya. Irama lagu ini sebenarnya bagus dan enak dinikmati. Hanya saja sebutan 'hei' kepada Tuhan menodai semua itu... Jangan diulangi lagi ya, Wan....


Tolong Dengar Tuhan
Iwan Fals ( Album Sugali 1984 )


Hei, Tuhan
Apakah kau dengar?
Jerit umatmu
Diselah tebalnya debu

Hei, Tuhan
Adakah kau murung?
Melihat beribu wajah berkabung
Disisa gelegar Galunggung

Hei, Tuhan
Tamatkan saja
Cerita pembantaian orang desa
Yang jelas hidup tak manja

Hei, Tuhan
Katanya engkau maha bijaksana
Tolong Galunggung pindahkan ke kota
Dimana tempat segala macam dosa

Berat beban kau datangkan
Pada mereka disana
Cela apa nista apa
Hingga engkau begitu murka
Sungguh ku tak mengerti

Hingar tangis karena adabmu
Setiap detik duka berpadu
Semakin keras jerit tak puas
Dari mereka yang resah bertanya
Adilkah keputusanmu?

Acap kali rintih memaki
Setiap duka tuding Ilahi
Jangan salahkan kecewa kami
Bosan dalam irama takdirmu
Walau ku tak terganggu

Bukankah kau maha tahu
Pengasih penyayang
Namun mengapa selalu saja
Itu hanya cerita

Hei, Tuhan
Tolong hentikan
Hei, Tuhan
Dengar rintihan

Amuk lahar yang datang hanguskan bumi
Tinggalkan arang penghuni desa pergi
Gemuruh batu hancurkan saudaraku
Ulurkan tangan bantulah sesamamu

Tuhan
Salah apakah mereka?
Postingan Lama Beranda

Entri Terfals

Like

 

Kalender

Total Pengunjung

follow Me

Followers

 

Footer

Oi Pagar Alam