Tampilkan postingan dengan label Tiga Bulan (1981). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tiga Bulan (1981). Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Januari 2013

Mak

Sebuah lagu tentang pengorbanan seorang ibu demi kebahagiaan anak-anaknya. Iwan Fals menulis panjang lirik lagu ini dengan penuh lika-liku perjuangan seorang ibu. Banyak permintaan anak-anaknya yang tidak mampu dipenuhi ditambah masalah sang sauami yang mengalami kecelakaan kerja semakin membuat berat beban hidup sang ibu.
Lalu sunggu dilematis kenyataannya, si ibu menjadi khilaf sehingga mau menukar kehormatannya demi untuk menyenangkan anak-anaknya. Ini bukan satu-satunya pilihan jika si ibu masih punya iman yang kuat. Tapi kenyataannya kita kadang merasa tidak punya pilihan lain selain melakukan hal yang serupa... hmmmmm


Mak
Iwan Fals (Album Perjalanan 1980)


Mak perut Udin keroncongan
Belum makan dari tadi malam

Mak beliin dong Inah pakaian untuk seragam
Inah cuma punya sepasang
Itu juga sudah penuh tambal
Inah malu sama teman teman

Mak beliin dong buku tulis keluh Ujang
Buku kemarin yang Mak belikan
Sudah habis terisi pelajaran

Baik anakku kan Mak penuhi permintaan kalian
Asal Bapak sudah pulang
Baik anakku kan Mak penuhi permintaan kalian
Asal Bapak sudah pulang

Tiba tiba pintu depan diketuk orang
Mang Mamat teman sekerja Ayahnya datang
Membawa kabar
Tentang malapetaka yang menimpa Ayahnya
Dia tertiban beton dari atas bangunan
Kini dia terbujur lesu diatas kasur rumah sakit

Si Ibu bingung harus bagaimana

Mak kenapa Ayah kok belum pulang ?
Tanya ketiga putra putrinya
Si Ibu bingung harus menjawab apa

Mak nanti kalau Ayah sudah pulang
Pasti membawa banyak uang
Bisa membeli nasi Udin tak lapar lagi
Bisa membeli baju untuk seragam
Inah tak malu lagi
Bisa membeli buku tulis untuk Ujang

Kata ketiga putra putrinya
Yang tidak tahu bahwa Ayahnya terkena musibah

Si Ibu bingung harus menjawab apa
Si Ibu bingung harus menjawab apa
Menangis dia

Terbayang jelas wajah suaminya
Dan terpikir soal biaya pengobatan suaminya
Yang terlalu mahal bagi ukuran pekerja kasar
Yang terlalu mahal bagi ukuran pekerja kasar

Terngiang jelas permintaan putra putrinya
Yang tak mungkin bisa terkabulkan
Si Ibu bingung harus bagaimana
Si Ibu bingung harus bagaimana
Si Ibu bingung harus bagaimana
Menangis dia

Dalam kalut
Ia selalu mengharap uang mandor suaminya
Untuk keperluan anaknya
Untuk biaya pengobatan suaminya

Tapi si mandor pelit
Waktu si Ibu meminta pertolongan si mandor suaminya
Yang rupanya mandor itu bandot tertawa genit
Dalam otak si Ibu terselip
Pikiran yang sangat sempit
Sebab keluarga yang saya ceritakan itu pailit
Dan amat sangat memerlukan duit

Dengan perantara tubuh molek si Ibu
Keperluan anaknya dan biaya pengobatan suaminya
Bisa terpenuhi

Si Ibu tersenyum
Si Ibu tersenyum
Si Ibu tersenyum
Melihat keluarganya bisa kembali seperti semula
Sekalipun hati si Ibu amat tersiksa

Si Ibu tersenyum
Melihat keluarganya bisa kembali seperti semula
Sekalipun hati si Ibu tersiksa

Bencana Alam

Lagu karya Totok Gunarto ini berkisah tentang bencana alam, sesuai dengan judulnya. Bencana alam tidak mengenal siapa saja bisa terkena. Banyak kemungkinan penyebabnya namun hanya Tuhan yang tahu. Apakah itu karena keserakahan manusia sehingga adzab mendatangi, ataukah hanya cobaan agar ummatNya semakin beriman.. dan sebagainya...
Maka dari itu banyak-banyaklah memohon ampunan dariNya, kita semua adalah makhluk yang lemah. Hanya kepadaNyalah kita memohon dan berlindung.


Bencana Alam
Karya: Totok Gunarto
Vokal: Iwan Fals & Totok Gunarto (Album Perjalanan 1980)


Sekian manusia resah menatap wajah sesamanya
Duka karena bencana
Petaka menimpa diri dan dalam hatinya berkata
Besarkah dosa hamba ?

Menjelang saat ajal datang membayang
Gapai tangan minta
Tolong semua

Bencana alam melandanya
Kehendak yang kuasa
Peringatankah bagi kita ?
Manusia didunia

Karena kita tlah saling cinta harta benda dan kuasa
Tanpa pandang kebenaran
Dan tanpa pandang keadilan

Bencana alam melandanya
Tiada seorangpun kuasa menekan
Bencana alam melandanya
Miskin kaya kena petaka yang sama

Akhirnya ku merenung pula
Mengapa bencana alam meraja ?
Oh oh aku tak kuasa

Mungkinkah kau merenung juga ?
Mengapa bencana alam meraja ?
Oh oh ampunilah yang kuasa
Oh oh ampunilah semua

Pemborong Jalan

Kritikan Iwan Fals pada kualitas pembangunan di negeri ini yang hanya bertahan sebentar saja lalu rusak lagi. Dia memberi contoh pada sebuah jalan yang baru saja diaspal, setelah sehari terkena hujan, aspal itu rusak lagi. Apakah yang terjadi? apakah dana proyek itu dikorupsi? kemungkinan itu sangatlah besar. 
Rakyat yang sudah bayar pajak tinggi tetapi mendapatkan fasilitas yang minim. Iya benar, semuanya dikorupsi. Uang pajak dikorupsi, lalu yang dipakai hanya tinggal sedikit untuk pembangunan yang asal-asalan. Lalu para pekerja pembangunan itu hanya diupah rendah, mereka tak ubahnya hanya menjadi sapi perahan saja oleh pemenang tender proyek. Inilah ironisnya negeri kaya raya yang bernama Indonesia ini. Korupsi dimana-mana....


Pemborong Jalan
Iwan Fals (Album Perjalanan 1980)


Deru mesin motor jelas terdengar
Mengarung jalan penuh lubang
Baru kemarin selesai diaspal
Terkena hujan kok jerawatan?

Oh oh kasihan
Bayar pajak mahal
Banyak jalan
Seperti comberan

Pemborong berpengalaman tertawa
Berteman pipa topi baja
Bercanda dengan istri paling mudah
Tak ingat jalan dan pekerja

Oh oh kasihan
Nasib pekerja jalan
Tenaga hilang
Gaji tidak berimbang

Aku Berjalan / Kan Adakah

Potret kegelisahan Iwan Fals melihat kenyataan bahwa masih banyak orang yang hidup dengan kesusahan di sebuah kota besar. Gelandangan, sungai yang kotor tempat bermain anak-anak, orang-orang yang duduk melamun seakan tak punya harapan hidup. Itulah yang kerap kita saksikan di semua kota besar di negeri ini.

Sampai kapan pemerintah bisa mengatasi semua ini, sedangkan negara disibukkan dengan urusan korupsi dari penyelenggara negara sendiri, sedangkan pemerintah sibuk mencari popularitas dengan mengesampingkan rakyatnya yang menderita. Mereka (rakyat) hidup di negeri yang kaya-raya namun kekayaan itu hanya dinikmati segelintir orang saja.




Aku Berjalan / Kan Adakah
Iwan Fals (Album Perjalanan 1980)


Aku berjalan diatas jembatan
Waktu hari siang
Tengah keramaian kota

Kupandang kebawah
Berhimpit gubuk liar
Tempat tinggal gelandangan

Tampak anak kecil gundul
Tenang menggaruk koreng
Ditepi sungai yang kotor

Diseberang sana aku melihat
Seorang ibu duduk
Sedang melamun

Kan adakah masa depan yang cerah?
Bagi orang seperti dia
Kan tegakah melihat saudara kita?
Hidup menderita

Perjalanan

Mungkin ini adalah pengalaman pribadi Iwan Fals saat melakukan perjalanan panjang dengan bus umum. Kalau dilihat lamanya waktu perjalanan sekitar 9 jam, mungkin dia sedang mengambil rute Jakarta - Jogjakarta atau sebaliknya. 
Kisah dalam lirik lagu ini menggambarkan kejadian yang sering dijumpai. Penumpang bis dengan segala macam karakternya, suasana bis yang tidak nyaman dan sebagainya. Ini juga sekaligus mengkiritik pemerintah yang sampai sekarang tidak dapat menyediakan angkutan transportasi umum yang nyaman dan murah buat rakyatnya.


PERJALANAN  
Iwan Fals (album Perjalanan 1980)

Hari telah jauh siang
Ketika baru datang
Lama ku diperjalanan
Hampir sembilan jam berada
Di bis tua sialan

Pergi pukul tiga malam
Berjejalnya penumpang
Duduk disampingku seorang
Nenek yang tak mau diam

Panas kuping pantat pegal
Ingin kencing malu bilang
Bau bensin aku mual
Nenek muntah banyak benar

Imitasi

Kalau yang ini adalah lagu tentang kegelisahan Iwan Fals menyaksikan bencong-bencong jalanan. Mereka laki-laki tetapi tampangnya mirip banget dengan perempuan. Itu terjadi setelah Iwan Fals dan konco-konconya resah melihat perempuan cantik di jalanan tetapi sudah menjadi pelacur. Merasa kehabisan stok perempuan, eeh malah bertemu pria setengah wanita. 
Benar-benar jaman edan....


Imitasi
Iwan Fals ( Album Canda Dalam Nada 1980 )


Join join dong aku kita kumpul duit
Dana siap kita berangkat
Pakaian rapi celana potongan nabi
Taplak meja dirombak jadi dasi

Pergi kita cari sasaran
Malam ingin melepas keresahan
Lihat Poppy pakai rok mini
Lihat Nancy pakai bikini
Tapi sayang sudah di booking papi papi

Otakku tegang begitupun kawan sejalan
Cepat putar haluan
Tancap gas kita ngacir
Pergi ke taman lawang

Paginya Totok malamnya Titik
Paginya Sunarto malam Sunarti
Paginya Ahmad malamnya Asye
Paginya Ismet malam Isye

Aku melongo persis kebo bego
Jidat mengkerut persis jidat Darto
Lihat itu potongan habisnya mirip perempuan

Tiga Bulan

Sudah berapa banyak lagu Iwan Fals yang dia tulis sekian puluh tahun yang lalu masih relevan dengan kondisi sekarang. Contohnya lagu 3 Bulan ini. Ketidakadilan dalam bidang hukum saat Iwan Fals menulis lirik lagu ini sekitar tahun 80-an ternyata sampai sekarang masih berlaku. Bahkan sekarang semakin menjadi-jadi. 

Dalam lagu ini Iwan perbedaan perlakuan pengadilan kepada maling telur yang nilainya tak seberapa dan koruptor ratusan juta uang negara. Mereka sama-sama mencuri, dan sama-sama dihukum 3 Bulan. Bahkan suasana penjara si koruptor digambarkan Iwan Fals sama saja dengan di rumah. Ini kan persis sama dengan yang terjadi sekarang kawan... bahkan lebih parah...



Tiga Bulan
Iwan Fals


Tiga bulan lamanya kau dalam penjara
Teman
Seratus butir telur ayam di pasar
Hilang engkau ganyang

Palu keras bapak hakim berbunyi tegas
Terbayang
Bibir sumbing gigi rompal dapat kupastikan
Malang engkau kawan

Tiga bulan lamanya kah tuan ditahan
Nikmat benar
Seratus juta uang negara terbang melayang
Masuk kantong tuan

Palu kayu bapak hakim berbunyi pelan
Terdengar sumbang
Dalam rumah dalam penjara tiada beda
Coba bayangkan teman

Dalam rumah dalam penjara tiada beda
Coba bayangkan teman

Surat Dari Paman Di Desa

Pada lagu ini Iwan Fals duet dengan Helmy. Lagu ini bercerita mengenai penggusuran. Dan yang digusur adalah tanah didesa milik orang desa. Seringkali hal seperti ini terjadi, menggusur tanah orang desa untuk pembangunan. 
Kalau ganti ruginya setara tentu tak jadi soal. Nah yang kebanyakan adalah ganti rugi yang timpang dengan harga tanah itu. Korupsi penyebabnya. Sungguh malang nian nasib orang desa yang tidak mengerti apa-apa. Orang kota membodohi mereka untuk kesenangan duniawi belaka.




 
Surat Dari Paman Di Desa
Iwan Fals / Helmy ( Album 3 Bulan 1981 )

Kubaca surat dari paman di desa
Berdebar hati
Sepetak tanah paman di desa di gusur
Sakit hatinya tak berdaya

Hanya ada Menangis
Si buyung kecil meronta
Seakan ingin berontak

Tanah warisan yang hanya sepetak itu
Mengapa pula harus di gusur
Postingan Lama Beranda

Entri Terfals

Like

 

Kalender

Total Pengunjung

follow Me

Followers

 

Footer

Oi Pagar Alam