Tampilkan postingan dengan label Sumbang (1983). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumbang (1983). Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Februari 2013

Berikan Pijar Matahari

Sebuah lagu tentang kepincangan kesejahteraan masyarakat diperkotaan. Disatu sisi yang kaya sibuk berhura-hura. Disisi lainnya si miskin sibuk bertahan hidup. Iwan Fals menggambarkannya dengan lirik yang cerdas dan penuh makna seperti dalam lagu ini.

Sungguh sebuah kenyataan yang lazim terjadi di kota besar. Ironis sekali melihat ini semua, seperti mereka si kaya tidak peduli dengan penderitaan si miskin. Si kaya kerap berpesta membuang uang dengan mudahnya sementara di sekitarnya banyak orang miskin yang untuk mendapatkan recehan saja harus berjuang dengan darah dan air mata....




Berikan Pijar Matahari
Karya : Iwan Fals ( Album Sumbang 1983 )

Terhimpit gelak tertawa
Diselah meriah pesta
Seribu gembel ikut menari
Seribu gembel terus bernyanyi

Keras melebihi lagu tuk berdansa
Keras melebihi gelegar halilintar
Yang ganas menyambar

Kuyakin pasti terlihat
Dansa mereka begitu dekat
Kuyakin pasti terdengar
Nyanyi mereka yang hingar bingar

Seolah kita tidak mau mengerti
Seolah kita tidak mau perduli
Pura buta dan pura tuli

Mari kita hentikan
Dansa mereka
Dengan memberi pijar matahari
Dengan memberi pijar matahari

Terkurung gedung gedung tinggi
Wajah murung yang hampir mati
Biarkan mereka iri
Wajar bila mencaci maki

Napas terasa sesak bagai terkena asma
Nampak merangkak degup jantung keras berdetak
Setiap detik sepertinya hitam

Tak sanggup aku melihat
Lukamu kawan dicumbu lalat
Tak kuat aku mendengar
Jeritmu kawan melebihi dentum meriam

Asmara Tak Secengeng Yang Aku Kira

Bicara lagu-lagu cinta karya Iwan Fals tentu kita akan disuguhi lirik-lirik yang kadang berat dimengerti. Seperti pada lagu ini. Iwan Fals bicara cinta yang terjadi. Tapi dalam lagu ini yang saya sukai adalah musiknya yang asik. Cukup bisa membuat badan bergoyang....




Asmara Tak Secengeng Yang Aku Kira
Karya : Iwan Fals ( Album Sumbang 1983 )


Bekas tapak tapak sepatu
Yang kupakai selalu ikuti
Kemana ku berjalan

Debu dan keringat
Yang ada diatas kulit tubuh ini
Saksi bisu bahwasannya
Tak mudah dan tak segampang
Yang selama ini aku sangka tentang asmara

Cermin di segala tempat
Sahabat terdekat
Tak pernah terlambat

Menampung setiap ungkapan
Mendekap semua keluhan
Meraih suka
Menangkap tawa
Merebut duka

Satu cerita dua manusia
Terlibat dalam amuk asmara
Satu cerita yang memang ada
Tak mungkin mati jelas abadi
Selama manusia hidup dalam alam ini

Maafkan kalau ku salah duga
Ternyata asmara itu
Tak mudah tak gampang dan tak secengeng
Yang kukira yang kusangka

Kereta Tiba Pukul Berapa

Inilah salah satu lagu keren Iwan Fals yang mengkritik beberapa pihak yang terkait dengan pemerintahan. Tanpa tedeng aling-aling Iwan Fals berhadapan dengan polantas korup berwajah buas dijalanan. Polisi itu menangkap Iwan yang menerobos lampu merah dengan motornya. Inilah figur polisi lalu lintas di negeri ini. Siapa yang tidak tahu perilaku busuk mereka yang kerap memanfaatkan situasi dengan memeras harta dan mempersulit rakyat yang seharusnya dilindungi.
Kemudian point lain yang di kritik Iwan Fals adalah tentang Kereta Api yang sering terlambat. Bagi Iwan kereta api terlambat dua jam itu sudah biasa. Yaah, beginilah transportasi umum Indonesia, jangankan kereta api, pesawat terbang saja juga hobi terlambat. Bermilyar-milyar alasan tentu dilontarkan dari corong pemerintah, tapi cuma satu yang mereka lupa... mereka lupa dengan kejujuran, disiplin dan ketegasan dalam mengelola segala hal di negeri ini...



Kereta Tiba Pukul Berapa
Karya : Iwan Fals ( Album Sumbang 1983 )


Hilang sabar dihati
Dan tak terbendung lagi waktu itu
Lama memang kutunggu
Kedatanganmu sobat karibku

Datang telegram darimu
(Tiba kabar darimu)
Dua hari yang lalu (tunggu aku)
Di stasiun kereta itu pukul satu

Kupacu sepeda motorku
Jarum jam tak mau menunggu maklum rindu
Traffic light aku lewati
Lampu merah tak peduli jalan terus (asik)

Didepan (dimuka) ada polantas
Wajahnya begitu buas
Tangkap aku

Tawar menawar harga pas tancap gas

Sampai stasiun kereta pukul setengah dua
Duduk aku menunggu tanya loket dan penjaga
Kereta tiba pukul berapa?

Biasanya kereta terlambat
Dua jam mungkin biasa (rusak lo)

Biasanya kereta terlambat
Dua jam cerita lama

Sumbang

Iwan Fals bicara politik saya tidak tahu, tapi kalau Iwan Fals bernyanyi tentang politik inilah hasilnya. Sebuah lagu yang cukup kritis dinyanyikan Iwan menyoroti dunia politik yang penuh dengan permainan saling menjatuhkan lawan dengan cara yang licik.
Maka pantas saja banyak orang yang alergi dengan politik. Tetapi ada juga yang betah didunia politik, sebab disitulah lahan basah yang sering banjir uang. Jadi wajar kalau Iwan memberi judul lirik lagu ini dengan judul 'Sumbang'. Memang benar, dunia politik itu dunia yang kotor. Orang bersih dan jujur susah ditemukan di dunia politik. Kalaupun ada, biasanya umurnya tak akan lama.. akan langsung dibantai oleh politikus politikus kotor ahli koruptor...



Sumbang
Iwan Fals ( Album Sumbang 1983 )


Kuatnya belenggu besi
Mengikat kedua kaki
Tajamnya ujung belati
Menghujam di ulu hati
Sanggupkah tak akan lari
Walau akhirnya pasti mati

Di kepala tanpa baja
Di tangan tanpa senjata
Ah itu soal biasa
Yang singgah didepan mata kita

Lusuhnya kain bendera dihalaman rumah kita
Bukan satu alasan untuk kita tinggalkan
Banyaknya persoalan yang datang tak kenal kasihan
Menyerang dalam gelap

Memburu kala haru dengan cara main kayu
Tinggalkan bekas biru lalu pergi tanpa ragu
Memburu kala haru dengan cara main kayu
Tinggalkan bekas biru lalu pergi tanpa ragu

Setan setan politik
Kan datang mencekik
Walau dimasa paceklik
Tetap mencekik

Apakah selamanya politik itu kejam ?
Apakah selamanya dia datang tuk menghantam ?
Ataukah memang itu yang sudah digariskan
Menjilat, menghasut, menindas, memperkosa hak hak sewajarnya

Maling teriak maling
Sembunyi balik dinding
Pengecut lari terkencing kencing

Tikam dari belakang
Lawan lengah diterjang
Lalu sibuk (kasak kusuk) mencari kambing hitam

Selusin kepala tak berdosa
Berteriak hingga serak didalam negeri yang congkak
Lalu senang dalang tertawa
Ya ha ha

Lagu Sumbang

Celoteh Camar Tolol Dan Cemar

Ini adalah lagu yang berkisah tentang bencana terbakarnya kapal Tampomas II di perairan Indonesia. Pada waktu itu berita ini begitu gencar sebab memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Iwan Fals menaruh perhatian pada kejadian ini dan membuatkan lagu dengan judul Celoteh Camar Tolol Dan Cemar.
Rupanya banyak alasan tentang kecelakaan ini dari penanggung jawab yang tidak memuaskan banyak pihak...

Celoteh Camar Tolol Dan Cemar
Iwan Fals ( Album Sumbang 1983 )


Api menjalar dari sebuah kapal
Jerit ketakutan
Keras melebihi gemuruh gelombang
Yang datang

Sejuta lumba lumba mengawasi cemas
Risau camar membawa kabar
Tampomas terbakar
Risau camar memberi salam
Tampomas Dua tenggelam

Asap kematian
Dan bau daging terbakar
Terus menggelepar dalam ingatan

Hatiku rasa
Bukan takdir tuhan
Karena aku yakin itu tak mungkin

Korbankan ratusan jiwa
Mereka yang belum tentu berdosa
Korbankan ratusan jiwa
Demi peringatan manusia

Korbankan ratusan jiwa
Mereka yang belum tentu berdosa
Korbankan ratusan jiwa
Demi peringatan manusia

Bukan bukan itu
Aku rasa kita pun tahu
Petaka terjadi
Karena salah kita sendiri

Datangnya pertolongan
Yang sangat diharapkan
Bagai rindukan bulan
Lamban engkau pahlawan
Celoteh sang camar

Bermacam alasan
Tak mau kami dengar
Di pelupuk mata hanya terlihat
Jilat api dan jerit penumpang kapal

Tampomas sebuah kapal bekas
Tampomas terbakar di laut lepas
Tampomas tuh penumpang terjun bebas
Tampomas beli lewat jalur culas
Tampomas hati siapa yang tak panas
Tampomas kasus ini wajib tuntas
Tampomas koran koran seperti amblas
Tampomas pahlawanmu kurang tangkas
Tampomas cukup tamat bilang naas

Jendela Kelas

Ini nih lagu asik buat yang sedang jatuh cinta. Apalagi buat yang masih duduk di bangku sekolah, lagu ini bisa jadi inspirasi atau malah ditiru. Duduk dipojok bangku deretan belakang.... kebanyakan anak lelaki saat sekolah memilih duduk di belakang ketimbang didepan... Tapi jangan sering-sering ya, ntar malah tidak jelas menerima pelajaran.. Sesekali bolehlah...

catatan:
pada kaset atau CD, lagu ini ditulis dengan judul "Jendela Kelas I". Sebenarnya itu salah cetak, angka I disitu dimaksud take ke-I, bukan kelas I. Dan pembetulan ini sudah pernah direvisi oleh Iwan Fals sendiri pada waktu dia akan membawakan lagu ini pada live show di sebuah TV swasta beberapa waktu yang lalu.


Jendela Kelas
Iwan Fals ( Album Sumbang 1983 )


Duduk dipojok bangku deretan belakang
Didalam kelas penuh dengan obrolan
Selalu mengacau laju khayalan

Dari jendela kelas yang tak ada kacanya
Dari sana pula aku mulai mengenal
Seraut wajah berisi lamunan

Bibir merekah dan merah selalu basah
Langkahmu tenang kala engkau berjalan
Tinggi semampai gadis idaman

Kau datang membawa
Sebuah cerita

Darimu itu pasti lagu ini tercipta
Darimu itu pasti lagu ini tercipta

Dari jendela kelas yang tak ada kacanya
Tembus pandang ke kantin bertalu rindu
Datang mengetuk pintu hatiku

Kau datang membawa
Sebuah cerita

Darimu itu pasti lagu ini tercipta
Darimu itu pasti lagu ini tercipta

Puing (II)

Kembali Iwan Fals menulis lagu tentang dampak perang. Kali ini dia mengambil sisi dari sudut pandang pengungsi perang. Perang memang mengerikan.

Lagu ini versi awalnya ada di album Sumbang tahun 1983. Vocal Iwan masih cempreng dan lucu. Kemudian lagu ini di aransemen ulang dalam proyek album Mata Dewa tahun 1989 dengan karakter vocal Iwan yang mulai berat dan lebih bergaya rock. Musik dalam lagu yang versi baru ini dikerjakan oleh Ian Antono. Makin keren deh jadinya...



Puing II
Iwan Fals ( Album Sumbang 1983 & Mata Dewa 1989 )


Perang perang lagi
Semakin menjadi
Berita ini hari
Berita jerit pengungsi

Lidah anjing kerempeng
Berdecak keras beringas
Melihat tulang belulang
Serdadu boneka yang malang

Tuan tolonglah tuan
Perang dihentikan
Lihatlah ditanah yang basah
Air mata bercampur darah

Bosankah telinga tuan
Mendengar teriak dendam
Jemukah hidung tuan
Mencium amis jantung korban

Jejak kaki para pengungsi
Bercengkrama dengan derita
Jejak kaki para pengungsi
Bercerita pada penguasa
( Bercerita pada penguasa )

Tentang ternaknya yang mati
Tentang temannya yang mati
Tentang adiknya yang mati
Tentang abangnya yang mati
Tentang ayahnya yang mati
Tentang anaknya yang mati
Tentang neneknya yang mati
Tentang pacarnya yang mati
( Tentang ibunya yang mati )
Tentang istrinya yang mati

Tentang harapannya yang mati

Perang perang lagi
Mungkinkah berhenti
Bila setiap negara
Berlomba dekap senjata

Dengan nafsu yang makin menggila
Nuklir pun tercipta
( nuklir bagai dewa )
Tampaknya sang jenderal bangga
Dimimbar dia berkata

Untuk perdamaian (bohong)
Demi perdamaian (bohong)
Guna perdamaian (bohong)
Dalih perdamaian (bohong)

Mana mungkin
Bisa terwujudkan
Semua hanya alasan
Semua hanya bohong besar

Siang Pelataran SD Sebuah Kampung

Sebuah lagu yang menunjukkan rasa nasionalisme anak-anak di desa. Ternyata jiwa kebangsaan mereka sungguh luar biasa meski dengan fasilitas seadanya. Lagu ini menggambarkan itu semua dan Iwan Fals tidak sedang membual. Memang begitulah kenyataannya walau sekarang perlahan mulai memudar....



Siang Pelataran SD Sebuah Kampung
Iwan Fals ( Album Sumbang 1983 )


Sentuhan angin waktu siang
Kibarkan satu kain bendera usang

Di halaman sekolah dasar
Di tengah hikmat anak desa nyanyikan lagu bangsa
Bergemalah

Tegap engkau berdiri walau tanpa alas kaki
Lantang suara anak anak disana

Kadar cinta mereka tak terhitung besarnya
Walau tak terucap namun bisa kurasa
Bergemalah

Ya ha ha hau
Harapan tertanam
Ya ha ha hau
Tonggak bangsa ternyata tak tenggelam

Dengarlah nyanyi mereka kawan
Melengking nyaring menembus awan
Lihatlah cinta bangsa di dadanya
Peduli usang kain bendera

Semoga Kau Tak Tuli Tuhan

Ini adalah salah satu lagu Iwan Fals yang saya kurang sreg dengan liriknya. Perumpamaan yang dipakai Iwan Fals saya rasa kurang cocok. Iwan Fals memohon semoga Tuhan tidak tuli. hmmmm... tidak banyak yang bisa saya bicarakan disini karena saya kurang asik dengan kalimat itu.... Secara garis besarnya lagu ini berisi harapan Iwan Fals pada anaknya yang sedang dikandung dirahim istrinya....



Semoga Kau Tak Tuli Tuhan
Iwan Fals (Album Sumbang 1983)


Begitu halus tutur katamu
Seolah lagu termerdu
Begitu indah bunga-bungamu
Diatas karya sulam itu
Tampilkan kebajikan seorang ibu

Dengarlah detak jantung benihku
Yang ku tanam dirahimmu
Seakan pasrah menerima
Semua warna yang kita punya
Segala rasa yang kita bina

Kuharap kesungguhanmu
Kaitkan jiwa bagai sulam dikarya itu
Kuharap keikhlasanmu
Sirami benih yang kutabur ditamanmu

Oh jelas
Rakit pagar semakin kuat
Tak goyah
Walau diusik unggas

Pintaku pada Tuhan mulia
Jauhkan sifat yang manja
Bentuklah segala warna jiwanya
Diantara lingkup manusia
Diarena yang bau busuknya luka

Bukakan mata pandang dunia
Beri watak baja padanya
Kalungkan tabah kala derita
Semoga kau tak tuli Tuhan
Dengarlah pinta kami sebagai orang tuanya

Kuharap kesungguhanmu
Kaitkan jiwa bagai sulam dikarya itu
Kuharap keikhlasanmu
Sirami benih yang kutabur ditamanmu

Oh jelas
Rakit pagar semakin kuat
Tak goyah
Walau diusik unggas
Postingan Lama Beranda

Entri Terfals

Like

 

Kalender

Total Pengunjung

follow Me

Followers

 

Footer

Oi Pagar Alam