Tampilkan postingan dengan label Sore Tugu Pancoran (1985). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sore Tugu Pancoran (1985). Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Februari 2013

Sore Tugu Pancoran

Cerita duka seorang anak kecil penjual koran yang harus bekerja untuk mendapatkan uang guna biaya sekolahnya. Kondisi seperti ini sampai sekarang masih bisa kita temui di negeri yang kaya raya ini. Sungguh ironis kenyataannya, anak usia sekolah yang seharusnya penuh dengan keceriaan haru bekerja menjual koran demi kelangsungan hidup dan sekolahnya. 
Kemana para pengelola negeri ini yang tidak becus mengurusi derita rakyatnya sendiri terutama generasi penerus bangsa seperti si Budi dalam lagu Iwan Fals ini...? Mereka sibuk memperkaya diri dan keluarganya..... 




Sore Tugu Pancoran
Karya : Iwan Fals ( Album Sore Tugu Pancoran 1985 )


Si Budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Di simpang jalan tugu pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran

Menjelang maghrib hujan tak reda
Si Budi murung menghitung laba
Surat kabar sore dijual malam
Selepas isya melangkah pulang

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepang

Cepat langkah waktu pagi menunggu
Si Budi sibuk siapkan buku
Tugas dari sekolah selesai setengah
Sanggupkah si Budi diam di dua sisi

Intermezo

Lagu bertutu gaya Iwan Fals ini bercerita mengenai perbedaan yang terpapar dalam kenyataan hidup. Seorang menjadi resah menyaksikan itu semua. Lalu minuman keran menjadi pelampiasan untuk melupakan permasalahan yang membelit dunianya. Sungguh suatu hal yang tidak pantas dicontoh. 



Intermezo
Iwan Fals (album Sore Tugu Pancoran 1985)


Katanya malam sepi
Ternyata malam tak sepi
Malam katanya sama
Ternyata malam tak sama

Didesaku dikotamu
Memang ada malam
Dihatimu dihatiku
Malam memang ada

Namun malammu tak sama malamku
Namun hatimu tak sama hatiku
Pahamkah kau ceritaku tantang malam

Malam didesaku nyanyi jangkrik merdu
Malam dikotamu keluh kesah bertalu
Malam dihatiku tetap gelap tak terang
Malam dihatimu gelap jadi bumerang
Sukur...

Oh ya, disini jurang kita
Dalam...dalam teramat dalam
Seperti gelapnya malam

Di heningnya malam
Di redupnya sinar
Satu rembulan berjuta bintang

Ayun kaki membelah sepi
Iring angan hidup punya arti
Seorang lelaki coba sembunyi

Kala keseribu teguk
Hanguslah problema yang menghimpit dada
Berbisik seorang pemabuk
Kepada dunia yang remehkan dia
Kepada dunia yang remehkan dia

Hembus angin lewat
Belai tubuh penat
Seorang lelaki bergumul pekat

Bosan kadang singgah
Di jiwa yang lelah
Kadang ada jemu
Sekejap berlalu

Kala keseribu teguk
Hanguslah problema yang menghimpit dada
Berbisik seorang pemabuk
Kepada dunia yang remehkan dia
Kepada dunia yang remehkan dia

Ujung Aspal Pondok Gede


Kisah tentang penggusuran selalu menjadi topik yang tidak pernah usai dibahas. Iwan Fals membuat lagu tentang derita korban penggusuran. Lagu ini begitu sedih liriknya. Tentang hilangnya memory masa kecil di lingkungan tempat tinggalnya yang harus digusur demi pembangunan pabrik. 
Pembangunan yang tidak memperhatikan aspek sosial akan menjadi dendam berkepanjangan yang ujungnya akan menciptakan kesenjangan sosial yang sangat tinggi dan berdampak luas.





Ujung Aspal Pondok Gede
Karya : Iwan Fals ( Album Sore Tugu Pancoran 1985 )


Di kamar ini aku dilahirkan
Di balai bambu buah tangan bapakku
Di rumah ini aku dibesarkan
Dibelai mesra lentik jari ibu

Nama dusunku ujung aspal pondok gede
Rimbun dan anggun ramah senyum penghuni dusun

Kambing sembilan motor tiga bapak punya
Ladang yang luas habis sudah sebagai gantinya

Sampai saat tanah moyangku
Tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota
Terlihat murung wajah pribumi
Terdengar langkah hewan bernyanyi

Di depan masjid samping rumah wakil pak lurah
Tempat dulu kami bermain mengisi cerahnya hari
Namun sebentar lagi angkuh tembok pabrik berdiri
Satu persatu sahabat pergi dan tak akan pernah kembali

Tince Sukarti Binti Mahmud

Makelar penyanyi? apakah ada?.. Ada..!. Mereka membujuk orang-orang yang ingin menjadi populer sebagai artis. Dibujuk, dikuras hartanya dijanjikan ketenaran, lalu sebelum itu semua tercapai, mereka dicampakkan begitu saja, ditipu. Itulah yang coba Iwan Fals gambarkan terhadap figur Tince Sukarti ini. 
Seorang perempuan desa yang cantik yang terobsesi menjadi ngetop. Rela membantah nasehat orang tuanya hanya demi mengejar popularitas sebagai penyanyi di kota. Karena tidak direstui orang tuanya maka dia mendapatkan banyak cobaan dan akhirnya ditinggal kabur oleh makelar penyanyi. Musnah sudah semua impiannya...




Tince Sukarti Binti Mahmud
Iwan Fals ( Album Sore Tugu Pancoran 1985 )


Tince Sukarti binti Mahmud
Kembang desa yang berwajah lembut
Kuning langsat warna kulitnya
Maklum ayah Arab ibunda Cina

Tince Sukarti binti Mahmud
Ikal mayang engkau punya rambut
Para jejaka tak akan lupa
Kerling nakal Karti memang menggoda

Jangankan lelaki muda terpesona
Yang tua jompo pun gila
Sejuta cinta antri di meja beranda
Sukarti hanya tertawa

Bibirmu hidungmu
Indah menyatu
Tawamu suaramu
Terdengar merdu

Tince Sukarti hobi memang dia bernyanyi
Kasidah, rock and roll, dangdut, keroncong ia kuasai
Tince Sukarti ingin jadi seorang penyanyi
Primadona beken neng Karti selalu bermimpi

Ibu bapaknya enggan memberi restu
Walau sang anak merayu
Tince Sukarti dasar kepala batu
Kemas barang dan berlalu

Tince Sukarti berlari mengejar mimpi
Janji makelar penyanyi orbitkan Sukarti
Janji Sukarti di hati persetan harga diri

Kembang desa layu
Tak lagi wangi seperti dulu
Kembang desa layu
Tak lagi wangi seperti dulu

Tince Sukarti berlari mengejar mimpi
Tince Sukarti berlari dikejar mimpi

You might also like:

Damai Kami Sepanjang Hari

Lagu ini pernah menjadi soundtrack film layar lebar yang dibintangi Iwan Fals dengan judul yang sama (Damai Kami Sepanjang Hari) pada tahun 1986. 
Lagu ini ada dua versi. Yang pertama versi 'kopi', dan yang kedua adalah versi 'kopi susu' (istilah ini kami bikin sendiri). Dua versi rekaman ini juga beredar, namun yang versi 'kopi' ada di album kompilasi, sedangkan versi 'kopi susu' ada di album Sore Tugu Pancoran. Yang versi KOPI digunakan untuk soundtrack film 'Damai Kami Sepanjang Hari'. 
Dalam film itu diceritakan Iwan Fals belum menikah jadi lagu ini menyesuaikan dengan cerita film. Sedangkan yang versi KOPI SUSU kemungkinan besar adalah versi orisinalnya karena paling sering dipakai Iwan Fals dalam penampilan konsernya. Tidak ada perbedaan dalam lagunya, hanya sebagian kecil lirik yang berubah.


Damai Kami Sepanjang Hari
Iwan Fals ( Album Sore Tugu Pancoran 1985 )

Hangat mentari pagi ini
Antar ku pulang dari bermimpi
Ramah tersenyum matahari
Inginkan aku tuk bernyanyi

Indah pagi ini
Nada sumbang enyahlah kau
Biarkan kami

Perlahan kau bangunkan aku
Antarkan segelas kopi ( kopi susu )
Dengar canda adik adikmu (gurau riang istri dan anakku)
Inginkan aku segera bersatu

Indah pagi ini
Nada sumbang enyahlah kau
Biarkan kami

Semoga akan tetap abadi
Pagi ini
Pagi esok
Esok hari
Hari nanti

Semoga tak kan pernah berhenti
Canda hari ( pagi )
Canda pagi ( hari )
Damai kami Sepanjang hari

Berapa

Lagu ini cukup monoton karena lirik yang sedikit dan dinyanyikan berulang-ulang berputar-putar dari awal ke akhir oleh Iwan Fals. Yang sedikit bikin lagu ini lumayan adalah musiknya yang asik dan bertempo cepat. Lagu tentang keperkasaan seorang lelaki yang mampu menepati janjinya.



Berapa
Iwan Fals ( Album Sore Tugu Pancoran 1985 )


Berapa jauh seorang lelaki
Tempuh jarak lalu jalan mendaki
Berapa cepat seorang lelaki
Tanpa keluh sigap dia berlari

Berapa dalam seorang lelaki
Selami lautan demi tepati janji
Berapa keras seorang lelaki
Pecahkan cadas di atas kaki sendiri

Aku Antarkan

Mungkin ini lagu cinta Iwan Fals yang agak vulgar sebagian liriknya. Lagu Aku Antarkan dari album Sore Tugu Pancoran tahun 1985 ini berkisah tentang lelaki yang mengantarkan pulang pasangannya setelah seminggu lamanya bersama. Tak terasa seminggu sudah waktu berlalu dan entah mereka ngapain saja... mungkin jungkir balik atau panjat tebing.. hehehe. Yang jelas pada liriknya dalam seminggu lelaki itu telah habis melumat bibir pasangannya. Dan hebatnya, pasangannya tak bosan meminta ciuman itu, wow. 

Naah, jangan ngeres dulu dan langsung memvonis ini lagu tentang pasangan kumpul kebo. Iwan Fals pada saat lagu ini dirilis kayaknya telah menikah resmi, Iwan Fals nikah umur 19 tahun. Jadi mungkin lagu ini berkisah tentang pasangan sah suami istri yang sudah tentu halal saling melumat bibir. Pertanyaannya apa nggak sariawan ya seminggu penuh bibir diulek-ulek gitu yang pastinya bibir jadi memble.

Lagu ini versi awalnya ada dalam album Sore Tugu Pancoran tahun 1985. Kemudian direkam ulang dengan musik yang berbeda dan karakter rock yangbegitu kuat dalam album Antara Aku Kau dan Bekas Pacarmu tahun 1988.


Aku Antarkan
Iwan Fals (album Sore Tugu Pancoran 1985/Album Antara Aku Kau Dan Bekas Pacarmu 1988)


Aku antar kau
Sore pukul lima
Laju roda dua
Seperti malas tak beringas

Langit mulai gelap
Sebentar lagi malam
Namun kau harus kembali
Tinggalkan kota ini

Saat lampu lampu mulai dinyalakan
Semakin erat lingkar lenganmu di pinggangku
Jarak bertambah dekat dua kelok lagi
Stasiun bis antar kota pasti terlihat

Tak terasa seminggu
Sudah engkau di pelukku
Tak terasa seminggu
Alangkah cepatnya waktu
Tak terasa seminggu
Rakus kulumat bibirmu
Tak terasa seminggu
Tak bosan kau minta itu

Tiba di tujuan
Mesin ku matikan
Jariku kau genggam
Seakan enggan kau lepaskan

Saat lampu lampu mulai dinyalakan
Semakin erat lingkar lenganmu di pinggangku
Jarak bertambah dekat dua kelok lagi
Stasiun bis antar kota pasti terlihat

Tak terasa seminggu
Sudah engkau di pelukku
Tak terasa seminggu
Alangkah cepatnya waktu
Tak terasa seminggu
Rakus kulumat bibirmu
Tak terasa seminggu
Tak bosan kau minta itu

Cik

Dulunya saya kira 'cik' adalah panggilan Iwan Fals kepada istrinya. Ternyata 'cik' dalam lagu ini adalah singkatan dari Calon Istriku. Lagu ini rupanya berkisah tentang Iwan Fals saat belum menikah, menaruh sejuta harapan bagi keduanya kelah setelah berumah tangga. Tapi membaca liriknya kok saya kurang asik. Masih calon istri kok sudah ciuman bibir, kan belum sah menjadi muhrim.. Semoga ini hanya didalam lagu saja, tapi saya tidak tahu apakah memang begitu.



Cik
Iwan Fals ( Album Sore Tugu Pancoran 1985 )


Cepat kemari calon istriku
Ajarkan aku setiap pagi
Kucium mesra bibirmu

Larilah dekap tubuhku erat
Otakku buntu aku tak tahu
Hadapi soal serupa itu
Nona cantik calon istriku tolonglah aku

Pikat hatiku dengan tingkahmu
Sebelum kita siap arungi
Lautan luas penuh tantangan
Tampak perahu kecil kita menunggu di dermaga

Riak gelombang suatu rintangan
Ingat itu pasti kan datang
Karang tajam sepintas seram
Usah gentar bersatu terjang

Ulurkan tanganmu
Pasti kugenggam jarimu
Kecup mesra hatiku
Rintangan kuyakin pasti berlalu

Ulurkan tanganmu
Pasti kugenggam jarimu
Kecup mesra hatiku
Rintangan kuyakin pasti berlalu

Riak gelombang suatu rintangan
Ingat itu pasti kan datang
Karang tajam sepintas seram
Usah gentar bersatu terjang

Cepat kemari calon istriku
Ajarkan aku setiap pagi
Kucium mesra jidatmu

Larilah dekap tubuhku erat
Otakku buntu aku tak tahu
Hadapi soal serupa itu
Nona cantik calon istriku tolonglah aku

Pikat hatiku dengan tingkahmu
Sebelum kita siap arungi
Lautan luas penuh tantangan
Tampak perahu kecil kita menunggu di dermaga

Yang Tersendiri

Tommy dan Marie menciptakan sebuah lagu cinta untuk Iwan Fals yang liriknya begitu penuh ketegasan tentang cinta. Lagu ini versi awalnya ada dalam album Sore Tugu Pancoran 1985. Kemudian diaransemen ulang dengan musik dan karakter vocal Iwan Fals yang baru didalam album Antara Aku Kau Dan Bekas Pacarmu tahun 1988. Perbedaan menonjol kedua versi ini seperti biasa ada pada karakter vocal Iwan yang berubah dari cempreng ke berat bergaya rock.

Yang Tersendiri
Iwan Fals / Tommy Marie ( Album Sore Tugu Pancoran 1985 / Album Antara Aku Kau Dan Bekas Pacarmu 1988 )


Terhempas ku terjaga
Dari lingkar mimpi
Pada titik sepi

Suaramu terngiang
Menembus khayalku
Yang juga tentangmu

Dan ku akui tanpa kemunafikan
Ku cinta kau
Bahwasannya keakuanku bersumpah
Ku cinta kau

Bayangmu menghantui
Setiap gerakku
Dan kemauanku

Dahagaku akanmu
Matikan emosi
Juga ambisiku

Dan ku akui tanpa kemunafikan
Ku cinta kau
Bahwasannya keakuanku bersumpah
Ku cinta kau

Angan Dan Ingin

Oddie Agam bikin lagu buat Iwan Fals, dan inilah hasilnya. Sebuah lagu yang bercerita tentang keinginan manusia terhadap lawan jenisnya. Penulis lirik begitu terpesona melihat keanggunan seorang wanita, begitu juga orang disekitarnya baik tua maupun muda. Namun mereka hanya sebatas bisa melihat tanpa bisa memilikinya, mungkin itu maksud dari lagu ini.



Angan Dan Ingin
Iwan Fals / Oddie Agam ( Album Sore Tugu Pancoran 1985 )


Sambil tersenyum dan tanpa beban
Sepanjang jalan menarik perhatian
Rambutnya panjang
Rampingnya pinggang
Celana blue jeans mengukir tubuhnya sempurna

Tua muda berangan melihatnya
Seperti aku ingin bersamanya
Tapi sayangnya
Angan dan ingin
Seperti angin

Tiada habisnya
Tiada hentinya
Melayang

Tiada habisnya
Tiada hentinya
Menggoyang

Tiada habisnya
Tiada hentinya
Menantang

Tiada habisnya
Tiada hentinya
Sehingga hujan turun mengecewakan
Postingan Lama Beranda

Entri Terfals

Like

 

Kalender

Total Pengunjung

follow Me

Followers

 

Footer

Oi Pagar Alam