Tampilkan postingan dengan label Suara Hati (2002). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suara Hati (2002). Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Mei 2013

Di Ujung Abad

Untuk kesekian kalinya Iwan Fals membuat lagu dengan tema perang. Kali ini perang yang terjadi diujung abad atau yang terjadi di akhir tahun 90-an. Peperangan dianggap Iwan Fals sebagai cerita kuno, sebuah kemunduran. Kekuasaan dianggap sebagai tuhan mengalahkan Tuhan yang sebenarnya. Salah satu bagian lirik yang saya suka adalah 'Bertahan hidup harus bisa bersikap lembut, walau hati panas, bahkan terbakar sekalipun...'



Di Ujung Abad
Iwan Fals ( Album Suara Hati 2002 )


Cerita kuno tentang peperangan
Diujung abad menghantui
Setiap orang

Peralihan banyak memakan korban
Sementara segelintir tuan tuan
Tertawa girang

Kekuasaan sudah menjadi tuhan
Pengkhianatan adalah
Panglima perang

Kesetiaan jadi janji murahan
Kisah inilah dongeng tidur
Bayi bayiku

Bertahan hidup
Harus bisa bersikap lembut
Walau hati panas
Bahkan terbakar sekalipun

Keluh kesah ini
Mungkin berguna
Jadikan teman sejati
Dimedan juang

Bisa jadi kita bosan
Tapi kenyataan

Badai datang
Tak bosan-bosan
Waspadalah kawan
Perjuangan masih panjang

Cerita kuno tentang peperangan
Diujung abad menghantui
Setiap orang

Kesetiaan jadi janji murahan
Kisah inilah dongeng tidur
Bayi bayiku

Doa

Syair yang dilagukan tanpa iringan musik. Ini seperti doa-doa yang dipanjatkan dimana mana. Iwan Fals menjadikan syair ini begitu kuat maknanya. Sehingga dalam setiap mengakhiri konsernya, Iwan Fals kerap membacakan syair doa ini sebagai penutup konser, dan selalu dibaca bersama-sama penontonnya.




Doa
Iwan Fals ( Album Suara Hati 2002 )


Berjamaah
Menyebut asma ALLAH
Saling asah saling asih saling asuh

Berdoalah
Sambil berusaha
Agar hidup jadi tak sia sia

Badan sehat
Jiwa sehat
Hanya itu yang kami mau

Hidup berkah
Penuh gairah
Mudah mudahan ALLAH setuju

Inilah lagu pujian
Nasehat dan pengharapan

Dari hati yang pernah mati
Kini hidup kembali

Rabu, 01 Mei 2013

Suara Hati

Iwan Fals benar-benar lahir kembali, setelah di album sebelumnya orang bertanya-tanya karena Iwan hanya mengaransemen ulang lagu-lagu lama, pada album ini seluruhnya benar-benar baru. Mulai lagu, vokal, musik, benar-benar fresh.

Album ini menjawab pertanyaan tentang kevakuman Iwan dalam bermusik. Lagu-lagu pada album ini berbobot, namun liriknya lebih dewasa tidak senakal dahulu. Iwan menjadi lebih profesional, karena telah memiliki manajemen pribadi yang digawangi oleh istrinya (Rossana). Iwan mulai rajin menggelar konser baik di TV maupun outdoor, dan rata rata sukses tanpa kerusuhan.
Lagu ini semacam jawaban Iwan Fals setelah dia vacum dalam bermusik untuk sekian lama. Dia menyapa suara hatinya yang ingin terus bermusik ditengah suasana yang tidak menguntungkan. Lagu ini awalnya ada dalam album Suara Hati tahun 2002, kemudian diaransemen ulang musiknya dan dimasukkan kedalam album In Collaboration pada tahun 2003.


Suara Hati
Iwan Fals ( Album Suara Hati 2002 & In Collaboration 2003 )


Apa kabar suara hati?
Sudah lama baru terdengar lagi
Kemana saja suara hati?
Tanpa kau sepi rasanya hati

Kabar buruk apa kabar baik?
Yang kau bawa mudah mudahan baik
Dengar dengar dunia lapar
Lapar sesuatu yang benar

Suara hati
Kenapa pergi?
Suara hati
Jangan pergi lagi

Suara hati
Kenapa pergi?
Suara hati
Jangan pergi lagi

Ku dengarkah orang orang yang menangis?
Sebab hidupnya dipacu nafsu
Kau rasakah sakitnya orang yang terlindas?
Oleh derap sepatu pembangunan

Kau lihatkah pembantaian?
Demi kekuasaan yang secuil
Kau tahukah alam yang kesakitan?
Lalu apa yang akan kau suarakan?

Suara hati
Kenapa pergi?
Suara hati
Jangan pergi lagi

Suara hati
Kenapa pergi?
Suara hati
Jangan pergi lagi

Jangan pergi lagi

Untukmu Negeri

Lagu kepada negeri ini dipersembahkan Iwan Fals. Untukmu negeri yang telah melakukan apa saja baik yang buruk maupun yang menyenangkan. Negeri ini telah memberi banyak arti disamping dia juga telah melukai banyak orang.



Untukmu Negeri
Iwan Fals ( Album Suara Hati 2002 )


Perihnya masih terasa
Sakitnya tak terhingga
Nafsu ingin berkuasa
Sungguh mahal ongkosnya

Apapun yang kan terjadi
Aku tak akan lari
Apalagi bersembunyi
Tak kan pernah terjadi

Air mata darah telah tumpah
Demi ambisi membangun negeri
Kalaulah ini pengorbanan
Tentu bukan milik segelintir orang

Belum cukupkah semua ini
Apakah tidak berarti
Lihatlah wajah ibu pertiwi
Pucat letih dan sedihnya berkarat
Berdoa terus berdoa

Hingga mulutnya berbusa busa
Ludahnya muncrat saking kecewa
Ibu pertiwi hilang tawanya
Tak percaya masih ada cinta

Seluruh hidupku jadi siaga
Pagar berduri kutancapkan dihati

Untukmu negeri
Yang telah memberi arti
Untukmu negeri
Yang telah melukai ibu kami
Untukmu negeri
Yang telah merampas anak kami
Untukmu negeri
Yang telah memperkosa saudara kami
Untukmu negeri
Waspadalah
Untukmu negeri
Bangkitlah
Untukmu negeri
Bersatulah
Untukmu negeri
Sejahteralah kamu negeriku
Sejahteralah kamu

Perihnya masih terasa
Sakitnya tak terhingga

Dendam Damai

Kondisi sosial masyarakat selalu menjadi perhatian Iwan Fals. Dalam lagu ini dia bercerita mengenai dendam yang sering menghatui keseharian. Dendam tidak ada wujudnya tetapi ada hasilnya. Seperti membunuh hanya demi uang semata, lalu itu melahirkan dendam yang berkepanjangan tak kunjung henti sehingga bisa menghancurkan tanah air ini.



Dendam Damai
Iwan Fals ( Album Suara Hati 2002 )


Tak habis pikir aku tak mengerti
Mengapa ada orang yang senang membunuh ?
Hanya karena uang semata
Atau demi kuasa dan nama

Bagi kita rakyat biasa
Tak berdaya ditodong senjata
Mencuri hidup yang hanya sekali
Hanya berdoa yang kita bisa

Dendam dendam celaka
Menghasut kita tak jemu menggoda
Damai damai dimana
Bersembunyi tak ada wujudnya

Kapan berakhirnya situasi seperti ini ?
Tidak bisakah kita saling berpelukan ?

Bukankah indah hidup bersama
Saling berbagi saling menyinta
Terasa hangat sampai ke jiwa
Memancar ke penjuru dunia

Jangan goyah percayalah teman
Perang itu melawan diri sendiri
Selamat datang kemerdekaan
Kalau kita mampu menahan diri

Dendam dendam celaka
Menghasut kita tak jemu menggoda
Damai damai dimana
Bersembunyi tak ada wujudnya

Kapan berakhirnya situasi seperti ini ?
Tidak bisakah kita saling berpelukan ?

Tak habis pikir aku tak mengerti
Mengapa ada orang yang senang membunuh ?
Hanya karena uang semata
Atau demi kuasa dan nama

Hanya karena itu semua
Rela hancurkan tanah tercinta
Rela hancurkan tanah tercinta

Kupu Kupu Hitam Putih

Keindahan alam dan lingkungannya selalu menarik perhatian Iwan Fals. Seperti dalam lagu indah ini yang berkisah tentang suasana alam yang asri dengan suara burung burung di dahan dan kupu kupu yang beterbangan.
Iwan Fals mengajak kita untuk selalu bersyukur, mencontoh binatang-binatang yang tidak pernah mengeluh pada keadaan. Mereka menikmati hidup dan pasrah pada rezeki apa saja yang telah didapatnya.
Dalam lagu ini istri Iwan Fals juga ikut menyumbangkan suaranya.Lagu versi awal ada didalam album Suara Hati tahun 2002, kemudian di aransemen ulang musiknya dan dimasukkan kedalam album In Collaboration tahun 2003.




Kupu Kupu Hitam Putih
Iwan Fals ( Album Suara Hati 2002 & In Collaboration 2003 )


Menunggu matahari terbit
Di musim hujan
Mendung menjadi teman
Ada juga keindahannya

Butir embun yang ada didaun
Bagai intan berlian
Lebih riang ia berkilauan
Karena matahari tertutup awan

Suara burung burung didahan
Nyanyian alam
Bekerja ia mencari makan
Ada juga yang membuat sarang

Iri aku menyaksikan itu
Tapi kutekan aku harus bersyukur
Berguru pada kenyataan
Pada makhluk Tuhan yang katanya tak berakal

Mendung datang lagi
Setelah hangat sebentar
Butir embun hilang
Aku jadi termenung

Mencari pegangan
Mencoba untuk bersandar
Langit makin hitam
Aku jadi berharap pada hujan

Kupu kupu hitam putih
Terbang di sekitarku
Melihat ia menari
Hatiku terpatri

Sepasang merpati
Bercumbu dibalik awan
Kemudian ia turun menukik
Sujud syukur padanya

Untuk Para Pengabdi

Lagu untuk para pengabdi. Disini maksudnya untuk orang orang yang kerjanya mengabdi pada sesuatu. Bisa sebagai pegawai, guru, atau jabatan lain yang sifatnya melayani masyarakat. Para pengabdi banyak sekali, ada yang dipuncak gunung, ditengah samudera didalam rimba belantara bahkan sampai di kota dan desa. Lagu ini semacam penghargaan yang diberikan Iwan Fals kepada para pengabdi yang jasa-jasanya kadang kita lupakan.



Untuk Para Pengabdi
Iwan Fals ( Album Suara Hati 2002 )


Kesetiaan masih ada
Setidaknya menjadi cita cita
Itu sebabnya aku disini
Menemanimu

Siang malam kuberjaga
Di relung hatimu di dalam benakmu
Di setiap langkahmu
Mudah mudahan begitu

Silahkan engkau tertawa
Sepuas hatimu
Ku takkan pernah berpaling
Karena hinaan itu

Bahagia rasanya
Lihat engkau bahagia
Berduka rasanya
Kalau engkau berduka

Untuk pengabdi lagu para pengabdi
Di puncak gunung di tengah tengah samudera
Di dalam rimba di kebingungan desa dan kota

Untuk pengabdi lagu para pengabdi
Di puncak gunung di tengah tengah samudera
Di dalam rimba di kebingungan desa dan kota

Kan ku temani kau
Kan ku temani kau

15 Juli 1996

Ini semacam trilogi dari judul judul lagu lainnya. Trilogi itu dikemas dalam judul lagu 15 Juli 1996, 16 Juli 1996 dan 17 Juli 1996. Dari informasinya, lagu ini dipersembahkan untuk seorang politikus perempuan yang pada masa itu sedang dirundung masalah. Iwan Fals merasa kasihan dan membuatkan lagu ini untuk dia. Saya tidak begitu paham makna tanggal yang dipakai sebagai judul lagu ini. Namun pada tanggal itu terjadi sebuah gonjang ganjing politik yang berhubungan dengan politikus perempuan itu sebagai seorang ketua.




15 Juli 1996
Iwan Fals ( Album Suara Hati 2002 )


Kalau kau datang
Hatiku senang
Berbunga bunga

Bulan dan bintang
Terangi malam
Sehabis hujan

Saling bicara
Tukar cerita
Berbagi rasa

Aku disini
Tetap di tepi
Masih bernyanyi

Dunia sedang dilanda kalut
Alam semesta seperti merintih
Kau dengarkah?

Aku tak bisa
Untuk tak peduli
Hati tersiksa

Aku bersumpah
Untuk berbuat
Yang aku bisa

Harus ada yang dikerjakan
Agar kehidupan berjalan wajar
Hidup hanya sekali wahai kawan
Aku tak mau mati dalam keraguan

Kalau kau datang

Hadapi Saja

Lagu ini merupakan lagu penghibur diri Iwan Fals sendiri setelah anak pertamanya meningga dunia. Ini lagu untuk menyemangati Iwan Fals dan Keluarganya. Dia mengajak untuk menghadapi segala persoalan. Menghadapi cobaan dengan pasrah karena seorang anak adalah titipan yang bila sewaktu-waktu diambil maka kita harus memasrahkannya.
Dalam lagu ini, istri Iwan Fals juga ikut bernyanyi pada lagu versi awal. Lagu ini versi awal ada di album Suara Hati tahun 2002, kemudian musiknya di aransemen ulang oleh Ahmad Dhani dibantu dengan Ari Lasso sebagai backing vocal dan dimasukkan kedalam album In Collaboration tahun 2003.




Hadapi Saja
Iwan Fals ( Album Suara Hati 2002 & In Collaboration 2003 )


Relakan yang terjadi
Tak kan kembali
Ia sudah miliknya
Bukan milik kita lagi

Tak perlu menangis
Tak perlu bersedih
Tak perlu tak perlu sedu sedan itu
Hadapi saja

Pasrah pada Ilahi
Hanya itu yang kita bisa
Ambil hikmahnya
Ambil indahnya

Cobalah menari
Cobalah bernyanyi
Cobalah cobalah mulai detik ini
Hadapi saja

Hilang memang hilang
Wajahnya terus terbayang
Berjumpa dimimpi
Kau ajak aku
Tuk menari bernyanyi
Bersama bidadari, malaikat
Dan penghuni surga

Belalang Tua


Menurut pengakuan Iwan Fals, lagu ini dibuat berdasarkan kenyataan yang dia lihat. Dia mengamati binatang belalang yang dianggap usianya sudah tua di kebun rumahnya. Belalang itu makan dengan rakusnya meskipun sudah tua. Belalang itu tidak mengehntikan makannya dan terus menghabiskan daun daun disana, tetapi walau sampai habis daunnya, belalang itu tak jatuh juga.
Namun rupanya pemahaman pendengar lagu ini berbeda. Pendengar mengartikan belalang tua sebagai seorang pemimpin yang rakus. Seorang penguasa yang enggan menyerahkan kekuasaannya kepada generasi muda. Ini mirip dengan keadaan yang terjadi di Indonesia pada masa yang lalu.

Lagu ini versi awalnya ada dalam album Suara Hati tahun 2002 dan kemudian diaransemen ulang dalam album In Collaboration tahun 2003.




Belalang Tua
Iwan Fals ( Album Suara Hati 2002 & In Collaboration 2003 )


Belalang tua diujung daun
Warnanya kuning kecoklat coklatan
Badannya bergoyang ditiup angin
Mulutnya terus saja mengunyah
Tak kenyang kenyang

Sudut mata kananku tak sengaja
Melihat belalang tua yang rakus
Sambil menghisap dalam rokokku
Kutulis syair
Tentang hati yang khawatir

Sebab menyaksikan
Akhir dari kerakusan
Belalang tua
Yang tak kenyang kenyang

Seperti sadar kuperhatikan
Ia berhenti mengunyah
Kepalanya mendongak keatas
Matanya melotot melihatku tak senang

Kakinya mencengkram daun
Empat didepan dua dibelakang
Bergerigi tajam

Sungutnya masih gagah menusuk langit
Berfungsi sebagai radar

Belalang tua masih saja melihat marah kearahku
Aku menjadi grogi dibuatnya
Aku tak tahu apa yang dipikirkan
Tiba tiba angin berhenti mendesir
Daun pun berhenti bergoyang

Walau hampir habis
Daun tak jadi patah
Belalang yang serakah
Berhenti mengunyah

Kisah belalang tua diujung daun
Yang hampir jatuh tetapi tak jatuh
Kisah belalang tua yang berhenti mengunyah
Sebab kubilang tak kenyang kenyang

Kisah belalang tua diujung daun
Yang kakinya berjumlah enam
Kisah belalang tua yang berhenti mengunyah
Sebab kubilang kamu serakah

Belalang tua diujung daun
Dengan tenang meninggalkan harta karun
Warnanya hijau kehitam hitaman
Berserat berlendir
Bulat lonjong sebesar biji kapas

Angin yang berhenti mendesir
Digantikan hujan rintik rintik

Aku yang menulis syair
Tentang hati yang khawatir
Tak tahu kapan
Kisah ini akan berakhir

Kisah belalang tua diujung daun
Yang hampir jatuh tetapi tak jatuh
Kisah belalang tua yang berhenti mengunyah
Sebab kubilang tak kenyang kenyang

Kisah belalang tua diujung daun
Yang kakinya berjumlah enam
Kisah belalang tua yang berhenti mengunyah
Sebab kubilang kamu serakah

Seperti Matahari

Inilah salah satu lagu Iwan Fals yang saya sukai. Lagu penyemangat hidup mengajak kita menjadi orang yang murah hati, mudah memberi tanpa berharap imbalan. Lagu ini mengajarkan kita agar dapat lebih mengatur diri, membatasi diri dari segala keinginan. Sebab keinginan yang banyak adalah sumber penderitaan. Kita akan menderita bila terlalu terobsesi dengan sebuah keinginan namun tidak dapat mencapainya. Dan diakhir lagu Iwan Fals mengatakan 'memberi itu terangkan hati, seperti matahari yang menyinari bumi'



Seperti Matahari
Iwan Fals ( Album Suara Hati 2002 )


Keinginan adalah sumber penderitaan
Tempatnya didalam pikiran
Tujuan bukan utama
Yang utama adalah prosesnya

Kita hidup mencari bahagia
Harta dunia kendaraannya
Bahan bakarnya budi pekerti
Itulah nasehat para nabi

Ingin bahagia derita didapat
Karena ingin sumber derita
Harta dunia jadi penggoda
Membuat miskin jiwa kita

Ada benarnya nasehat orang orang suci
Memberi itu terangkan hati
Seperti matahari
Yang menyinari bumi
Yang menyinari bumi

Ingin bahagia derita didapat
Karena ingin sumber derita
Harta dunia jadi penggoda
Membuat miskin jiwa kita

Keinginan adalah sumber penderitaan
Postingan Lama Beranda

Entri Terfals

Like

 

Kalender

Total Pengunjung

follow Me

Followers

 

Footer

Oi Pagar Alam