JAKARTA - Sudah adil dan merdekakah menurut anda di indonesia??? coba kita lihat kisah seorang bapak yang benama Sugiyanto (45), warga Tegalalur, Jakarta Barat, Rabu (26/6),
nekat demo berkeliling Bundaran Hotel Indonesia (HI). Disertai
putrinya, Shara Meilanda Ayu, Sugiyanto membawa selembar kertas putih
seukuran A3.
Telepon genggam Ayu, 19 tahun, nyaris tidak pernah berhenti
berdering. Sudah tak terhitung berapa orang yang menanyakan kondisinya
dan sang ayah. Mulai dari wartawan yang ingin memberitakan dirinya,
orang yang sekadar ingin mengucapkan simpati, hingga orang yang mengaku
ingin benar-benar menawar ginjal sang ayah.
Tidak hanya
itu, sedari pagi, Ayu mengaku sudah memenuhi undangan wawancara dua
stasiun televisi swasta. Wartawan dari berbagai media pun tampak silih
berganti mengunjungi rumahnya di Jalan Kebon 200, Kelurahan Kamal,
Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat.
Jangan bayangkan Ayu
menerima wartawan di sebuah ruang tamu dengan meja dan kursi. Bangunan
yang disebutnya rumah sebenarnya adalah sebuah kompleks ruko tempat
ayahnya, Sugianto, 45 tahun, membuka lapak jahitan. Ukurannya sekitar 3 x
5 meter persegi. Sebagian ruangan tersebut kemudian disekat untuk kamar
tidur. Ruangan itu terkesan lebih sempit sebab dipenuhi mesin jahit,
benang jahit, dan beberapa pakaian, baik yang sudah ataupun belum sempat
digarap oleh ayahnya.
Setelah aksinya dan sang ayah di
Bundaran Hotel Indonesia pada Selasa lalu, 25 Juni 2013, Ayu dan ayahnya
mendadak terkenal. Saat itu dia dan ayahnya nekat berorasi sambil
membawa tulisan yang isinya sang ayah siap menjual ginjalnya demi
menebus ijazah Ayu yang ditahan oleh pihak sekolah.
"Silakan masuk, Mas," sambutnya kepada wartawan, Kamis sore, 27 Juni
2013. Sugianto, yang saat itu sedang menggarap baju salah satu
pelanggannya, menghentikan sejenak pekerjaannya.
Sambil
sesekali menerima telepon, wanita yang bernama panjang Shara Meylanda
Ayu Ardianingtyas ini menceritakan awal mula kejadian sehingga ayahnya
nekat menjual ginjal demi ijazah Ayu.
Ayu mengaku mulai
masuk Pondok Al-Asiyyah Nurul Iman, Parung, Bogor, sejak tahun 2005.
Saat itu dia baru saja lulus sekolah dasar. "Saya masuk ke sana gratis,
semua biaya ditanggung pondok," ujarnya.
Awalnya, semua
berjalan normal. Ayu menamatkan jenjang sekolah menengah pertama pada
tahun 2008. Pun demikian dengan jenjang sekolah lanjutan. Dia lulus pada
tahun 2011 ditambah pengabdian kepada almamater sampai tahun 2013. Dia
bahkan sempat mengenyam bangku kuliah selama dua bulan di pondok
tersebut.
Namun Ayu menuturkan bahwa semua mulai berubah
pada awal Januari lalu. Pada saat itu, terjadi insiden kekerasan. Hal
itu dipicu permasalahan internal. Yang membuat dirinya dan
teman-temannya takut, kejadian tersebut terjadi di depan mata para
santri. Sejak itu kondisi pondok menjadi mencekam.
Lantaran
takut, para santri banyak yang berniat meninggalkan pondok. "Tapi kami
tidak boleh, justru kami disuruh membayar ijazah SMP sebesar Rp 7 juta
dan ijazah SMA Rp 10 juta," katanya. Alasan pihak pondok, para santri
harus menyelesaikan jenjang S-1 dulu baru boleh keluar. Namun, menurut
Ayu, peraturan tersebut tidak pernah ada sebelumnya.
Tidak
hanya itu, pihak pondok, lanjut Ayu, juga meminta uang pengganti selama
Ayu berada di sana. "Mereka mintanya Rp 20 ribu per hari, saya di sana
sekitar enam tahun," kata Ayu dengan nada kesal.
Merasa
semakin tertekan. Ayu dan beberapa rekannya kemudian memilih kabur dari
tempat mereka menuntut ilmu. Kejadian tersebut lalu disampaikannya
kepada sang ayah, Sugianto. Tentu saja uang sebanyak itu bukan jumlah
yang sedikit bagi Sugianto, yang sehari-hari hanya berpenghasilan tak
lebih dari Rp 70 ribu. Apalagi, sejak 12 tahun lalu, Sugianto harus
menafkahi dua anaknya sendiri. Istrinya, Ningsih, meninggal saat Ayu
masih berusia 5 tahun.
Mereka kemudian mendatangi pondok sampai empat kali. Namun pihak pondok berkeras tetap menahan ijazah Ayu.
Sugianto lalu mengadukan permasalahannya ke berbagai pihak. "Saya ke
Komnas HAM sudah, Kemenag juga sudah, dan beberapa instansi lain," ujar
Sugianto. Namun jawaban yang didapat Sugianto hanya saran untuk
menunggu.
Mulai kehabisan akal, Sugianto akhirnya memilih
turun ke jalan. Aksi yang dilakukan Sugianto pun tidak main-main. Dia
melakukan orasi dengan membawa tulisan yang intinya dia siap menjual
ginjal demi ijazah anaknya. Ginjalnya pun hanya dibanderol seharga
ijazah anaknya. "Saya tidak ada niatan mencari sensasi. Kalau memang ada
yang menawar seharga itu akan saya berikan asal ijazah Ayu bisa
diambil," katanya.
Sugianto mengaku sadar atas risiko yang
akan diterimanya jika ginjalnya benar-benar laku. "Saya rela, kalaupun
kesehatan saya menurun juga tidak masalah," tuturnya.
Aksi
pertamanya di RSCM tidak membuahkan hasil, hingga kemudian dia berpindah
ke Bundaran Hotel Indonesia. Aksi Sugianto akhirnya mendapat perhatian
dari banyak pihak. Berbagai media sontak memberitakan aksinya.
Beberapa orang yang bersimpati pun menawarkan bantuan. Tak hanya
bantuan, Sugianto mengaku sudah mendapat telepon dari beberapa orang
yang serius menawar ginjalnya.
Sugianto mengaku siap
melepas ginjalnya dengan ketentuan yang berlaku. Dia tetap berharap
ijazah anaknya bisa diambil. Sebab, menurut dia, masa depan anaknya
sangat penting.
Menurut Sugianto, ijazah merupakan salah
satu hak anaknya yang tidak bisa begitu saja direnggut. "Sampai kapan
pun saya akan tetap mencari keadilan untuk anak saya."