Jumat, 01 Februari 2013

Bangunlah Putra Putri Pertiwi

Ingin dengar lagu bertema nasionalisme dari Iwan Fals? Ya ini lagunya. Sepertinya tidak banyak Iwan membuat lagu dengan tema semacam ini. Tapi setidaknya lagu ini cukup menghibur dengan lirik-lirik kritisnya. Kalau dimasa 80-90an, lagu itu tidak begitu dikenal. Mungkin Iwan tidak terlalu asik menyanyikan kali ya. 
Tapi di era 2000-an ini, kita lebih sering mendengar lagu ini. Terutama pada momen peringatan proklamasi kemerdekaan, atau momen-momen hari perjuangan, Iwan Fals kerap menyanyikan lagu ini pada penampilannya yang kadang disiarkan live di layar kaca. Ya memang cuma lagu ini yang pas dibawakan pada acara semacam itu.

 Bangunlah Putra Putri Pertiwi
Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981)


Sinar matamu tajam namun ragu
Kokoh sayapmu semua tahu
Tegap tubuhmu tak kan tergoyahkan
Kuat jarimu kala mencengkeram

Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam cengkerammu

Angin genit mengelus merah putihku
Yang berkibar sedikit malu malu
Merah membara tertanam wibawa
Putihmu suci penuh karisma

Pulau pulau yang berbencar
Bersatu dalam kibarmu

Terbanglah garudaku
Singkirkan kutu kutu di sayapmu
Berkibarlah benderaku
Singkirkan benalu di tiangmu
Hei jangan ragu dan jangan malu
Tunjukkan pada dunia
Bahwa sebenarnya kita mampu

Mentari pagi sudah membumbung tinggi
Bangunlah putra putri ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi
Setelah itu kita berjanji

Tadi pagi esok hari atau lusa nanti

Garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut
Dan coba kau dengarkan pancasila itu
Bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisi harapan
Yang hanya berisi khayalan

Doa Pengobral Dosa

Lagu bertema tentang perjuangan orang tua untuk melangsungkan hidup anak-anaknya memang cukup sering Iwan Fals bikin. Salah satunya lagu ini. Namun Iwan menggambarkan dari sisi hitam kehidupan remang-remang. Seorang pelacur kelas teri yang mencari nafkah untuk menghidupi anaknya.
Sungguh sebuah tindakan bodoh mencari nafkah dengan cara yang diharamkan. Jangan bilang "hanya itu cara yang mereka bisa". Itu adalah jawaban orang yang putus asa malas membuka mata hati untuk melihat dunia. Masih banyak cara halal yang bisa dilakukan untuk mencari rezeki. Ingat ya, kalau anak-anakmu kamu kasih makan dari pekerjaan yang haram, kasihan mereka. Dan dosa kamu semakin menumpuk. Cari yang halal, masih banyak kok.. jangan bilang sudah tidak ada atau tidak punya kemampuan. Allah akan memberi jalan keluar bagi hamba-hambanya yang mau bekerja keras di jalan yang benar...


Doa Pengobral Dosa
Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981)


Disudut dekat gerbong
Yang tak terpakai
Perempuan ber make up tebal
Dengan rokok ditangan
Menunggu tamunya datang

Terpisah dari ramai
Berteman nyamuk nakal
Dan segumpal harapan
Kapankah datang
Tuan berkantong tebal

Habis berbatang batang
Tuan belum datang
Dalam hati
Resah menjerit bimbang

Apakah esok hari
Anak anakku dapat makan
Oh Tuhan beri
Setetes rezeki

Dalam hati yang bimbang berdoa
Beri terang jalan anak hamba
Kabulkanlah Tuhan

Puing (I)

Perang memang banyak menyimpan cerita duka. Ini adalah salah satu lagu Iwan Fals yang bercerita mengenai perang. Iwan menggambarkan suasana setelah pertempuran yang menyisakan banyak duka. 
Dan sayangnya sampai sekarang masih banyak kaum yang gila perang. Atas dasar menumpas teroris dan sejuta alasan lainnya yang ternyata itu semua hanya bohong besar. Menguasai kekayaan alam sebuah negeri yang diperangi itulah tujuannya. Rupanya mereka lupa, kalau sudah mati nanti harta dunia tidak akan dibawa ke alam kubur.....


Puing I
Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981)


Puing berserakan disegenap penjuru
Bekas pertempuran
Bau amis darah sisa asap mesiu
Sesak napasku

Mayat mayat bergeletakan
Tak terkubur dengan layak

Dan burung burung bangkai
Menatap liar
Dan burung burung bangkai
Berdansa senang

Diujung sana banyak orang kelaparan
Diujung lainnya wabah busung menyerang
Disudut sana banyak orang kehilangan
Disudut lainnya bayi bertanya bimbang

Mama kapan ayah pulang?
Mama sebab apa perang?

Mayat mayat bergeletakan
Tak terkubur dengan layak

Dan burung burung bangkai
Menatap liar
Dan burung burung bangkai
Berdansa senang

Banyak jatuh korban
Dari mereka
Yang tak mengerti apa apa

Suara tangis terdengar dari bekas reruntuhan
Seorang ibu muda yang baru melahirkan
Lama meratapi sesosok tubuh mayat suaminya

Dan burung burung bangkai
Menatap liar
Dan burung burung bangkai
Berdansa senang

Tinggi peradaban teknologi berkembang
Senjata hebat terciptakan
Sarana pembantaian semakin bisa diwujudkan
Oh mengerikan

Berhentilah jangan salah gunakan
Kehebatan ilmu pengetahuan
Untuk menghancurkan

Dan burung burung bangkai
Menatap liar
Dan burung burung bangkai
Berdansa senang

Si Tua Sais Pedati

Ini lagu asik nih. Kisah tentang Sais Pedati di pedesaan. Orang-orang seperti mereka memang masih menggunakan moda transportasi seperti ini. Murah meriah dan bebas polusi. Tidak rewel dan tidak banyak perawatan. Sampai sekarang saya masih sering menjumpai pedati di daerah pedesaan, meskipun beberapa sudah ada yang menggunakan kendaraan bermotor untuk mengangkut hasil kebun mereka.

Setidaknya Iwan Fals mencoba menggambarkan bahwa moda transportasi konvensional seperti ini lebih hemat energy dan tidak mencemari alam. Bener juga, namun tentu pertimbangan waktu dan efisiensi barang bawaan juga jauh berbeda dengan mesin modern.


Si Tua Sais Pedati
Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981)


Bergerak perlahan dengan pasti
Di jalan datar yang berlumpur
Sesekali terdengar geletar cemeti
Diiringi teriakan lantang
Si tua sais pedati

Gerak pedati sebentar berhenti
Tampak si tua sais pedati
Mulai membuka bungkusan nasi
Yang dibekali
Sang istri

Gerak pedati lalu jalan lagi
Singgah disetiap desa
Tanpa ragu ragu tanpa malu malu
Napas segar terhembus dari sepasang lembu
Yang tak pernah merasakan sesak polusi

Dia tak pernah memerlukan
Dia tak pernah membutuhkan
Solar dan ganti oli bensin dan ganti busi
Apalagi charge aki

Dia tak pernah kebingungan
Dia tak pernah ketakutan
Akan kata orang tentang gawatnya
Krisis energi

Gerak pedati dan lenguh lembu
Seember rumput dan geletar cemeti
Seakan suara adzan yang dikasetkan
Sementara itu sang bilal (gawat)
Pulas mendengkur

Sarjana Muda

Berapa banyak pengangguran yang tidak sekolah? Lalu berapa banyak pengangguran yang sekolah? Pertanyaan ini tentu susah dijawab. Mungkin kita tidak akan menjumpai perhitungan yang akurat. Namun setidaknya lagu Iwan Fals ini memberi gambaran bahwa sekolah tinggi pun tidak menjadi jaminan mendapat pekerjaan. Di negara ini lapangan pekerjaan tidak sebanding dengan lulusan sekolah tinggi, begitu kata seorang kawan. Makanya banyak pengangguran.
Pantas saja ketika suatu waktu saya ngobrol dengan seorang sahabat. Dia tidak mau meneruskan sekolah ke perguruan tinggi, dia memilih kerja sendiri dengan berdagang selepas SMA. Ketika saya tanya mengapa tidak kuliah, dia jawab, percuma sekolah tinggi biaya banyak nantinya susah kerja. Mending berwiraswasta saja mulai sekarang, jadi bos sendiri di usaha yang dirintis sendiri itu lebih punya harga diri meski sedikit penghasilannya, daripada kuliah trus kerja kantoran dengan gaji tinggi tapi tetap saja statusnya kacung orang lain... hmmmmm..... bener juga...



Sarjana Muda
Karya : Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981)


Berjalan seorang pria muda
Dengan jaket lusuh dipundaknya
Disela bibir tampak mengering
Terselip sebatang rumput liar

Jelas menatap awan berarak
Wajah murung semakin terlihat
Dengan langkah gontai tak terarah
Keringat bercampur debu jalanan

Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Mengandalkan ijazahmu

Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
Tuk jaminan masa depan

Langkah kakimu terhenti
Didepan halaman sebuah jawatan

Terjenuh lesu engkau melangkah
Dari pintu kantor yang diharapkan
Terngiang kata tiada lowongan
Untuk kerja yang didambakan

Tak perduli berusaha lagi
Namun kata sama kau dapatkan
Jelas menatap awan berarak
Wajah murung semakin terlihat

Engkau sarjana muda
Resah tak dapat kerja
Tak berguna ijazahmu

Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
Sia sia semuanya

Setengah putus asa dia berucap... maaf ibu...

Guru Umar Bakri

Umar Bakri menjadi nama yang cukup populer di masyarakat Indonesia. Begitu mendengar atau membaca nama rekaan karya Iwan Fals ini bisa dipastikan pikiran kita langsung tertuju pada figur seorang guru pegawai negeri dengan sepeda kumbangnya. Ya, Umar Bakri dalam lagu ini adalah seorang guru yang mengajar disekolah yang murid-muridnya hobi tawuran. Guru Umar Bakri berbakti pada negeri, mencerdaskan anak bangsa.... tetapi.... gajinya kecil sekali.
Inilah reward yang diberikan pemerintah kepada Guru. Reward itu berbentuk gaji yang kecil, itupun masih dipotong sana-sini oleh para koruptor. Bagaimana bangsa ini bisa cerdas kalau guru-guru yang ditugaskan oleh negara untuk mendidik tunas bangsa tidak dihargai tinggi semua pengabdiannya. Katanya tanah Indonesia kaya raya, kenapa penghasilan guru yang dananya didapat dari kekayaan alam ini tidak bisa besar..? tanya kenapa??






Guru Umar Bakri
Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981)

Tas hitam dari kulit buaya
Selamat pagi berkata bapak Umar Bakri
Ini hari aku rasa kopi nikmat sekali

Tas hitam dari kulit buaya
Mari kita pergi memberi pelajaran ilmu pasti
Itu murid bengalmu mungkin sudah menunggu

Laju sepeda kumbang dijalan berlubang
Selalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang
Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang
Banyak polisi bawa senjata berwajah garang

Bapak Umar Bakri kaget apa gerangan?
“Berkelahi pak!” jawab murid seperti jagoan
Bapak Umar Bakri takut bukan kepalang
Itu sepeda butut dikebut lalu cabut kalang kabut (Bakri kentut)
cepat pulang

Busyet... standing dan terbang

Umar Bakri Umar Bakri
Pegawai negeri
Umar Bakri Umar Bakri
Empat puluh tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati

Umar Bakri Umar Bakri
Banyak ciptakan menteri
Umar Bakri
Profesor dokter insinyurpun jadi
(Bikin otak orang seperti otak Habibie)
Tapi mengapa gaji guru Umar Bakri
Seperti dikebiri

Bakri Bakri
Kasihan amat loe jadi orang
Gawat

Yang Terlupakan

Bisa dikatakan lagu ini adalah salah satu masterpiece Iwan Fals. Ini adalah lagu bertema cinta gaya Iwan yang dinyanyikan dengan alunan nada yang nikmat didengar. Lagu ini versi awalnya ada di album Sarjana Muda tahun 1981. Versi awal lagu ini masih memiliki taste kuno dan ada backing vocal suara seorang perempuan. 
Kemudian pada tahun 1989, lagu ini di re-arransemen dengan sentuhan rock ballad dari tangan dingin Ian Antono. Hasilnya lagu ini menjadi kental dengan nuansa slow rock yang tak lekang dimakan waktu. Hingga sekarang bila kita dengarkan lagu ini tidak akan berpikir kalau musiknya dikerjakan tahun 1989, musiknya terasa modern. Versi baru lagu ini ada pada album Mata Dewa, album yang membuka aura Iwan Fals untuk beralih gaya bernyanyi cempreng menjadi rocker.


Yang Terlupakan
Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981 & Album Mata Dewa 1989 )


Denting piano kala jemari menari
Nada merambat pelan dikesunyian malam saat datang rintik hujan
Bersama sebuah bayang yang pernah terlupakan

Hati kecil berbisik untuk kembali padaNYA
Seribu kata menggoda seribu sesal didepan mata seperti menjelma
Waktu aku tertawa kala memberiMU dosa

Oh maafkanlah
Oh maafkanlah

Rasa sesal didasar hati diam tak mau pergi
Haruskah aku lari dari kenyataan ini
Pernah ku mencoba tuk sembunyi
Namun senyumMU tetap mengikuti
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Entri Terfals

Like

 

Kalender

Total Pengunjung

follow Me

Followers

 

Footer

Oi Pagar Alam